CALON EMITEN: Usai IPO, Mega Perintis Bidik Pertumbuhan Penjualan 14% Tahun Depan

Peritel dan produsen pakaian, PT Mega Perintis memproyeksikan pertumbuhan penjualan pada 2019 mencapai 14% menjadi Rp507 miliar.
Novita Sari Simamora | 20 November 2018 15:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Peritel dan produsen pakaian, PT Mega Perintis memproyeksikan pertumbuhan penjualan pada 2019 mencapai 14% menjadi Rp507 miliar.

Direktur Utama Mega Perintis FX Afat Adinata Nursalim mengungkapkan, untuk meningkatkan penjualan, perseroan akan menambah 20 gerai baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Sampai saat ini, total gerai yang sudah dimiliki sebanyak 573 gerai.

Selain melakukan pembukaan gerai, Mega Perintis pun akan melakukan pengembangan dengan konsep hybrid, dan menjual produk melalui market place yang ada di Indonesia.

"Penjualan kami proyeksikan senilai Rp507 miliar pada tahun depan. Kami juga melihat, penjualan secara online sudah tidak bisa dihindari. Kami juga memiliki produk sendiri, sehingga konsumen bisa memilih, membeli via online atau offline," ungkapnya, Senin (19/11/2018).

Direktur Keuangan Mega Perintis Luki Rusli mengatakan, penjualan yang dibukukan pada akhir 2017 senilai Rp397,67 miliar, atau naik dari posisi Rp337,37 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga akhir 2018, perseroan mengincar pendapatan senilai Rp444 miliar dan laba bersih senilai Rp35 miliar.

Sebagai informasi, Mega Perintis merupakan calon emiten, yang berencana listing pada 12 Desember 2018. Mega Perintis siap melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) dengan melepas sebanyak-banyaknya 230 juta lembar saham atau setara dengan 27,71% dari modal disetor dan ditempatkan perseroan. 
 
Wientoro Prasetyo, Presiden Direktur PT Lotus Andalan Sekuritas (LOTS) yang juga ditunjuk Perseroan menjadi penjamin pelaksana emisi efek mengatakan, target IPO senilai Rp57,5 miliar—Rp69 miliar.

Dia menuturkan, dana hasil IPO akan digunakan untuk penambahan modal kerja sekitar 43%, pengembangan usaha melalui penambahan gerai baru sebesar 31% dan sisanya 26% akan digunakan untuk pengembalian fasilitas short term loan (STL) seasonal dari salah satu institusi perbankan.

Wientoro menambahkan, dari jumlah IPO yang ditawarkan, Perseroan juga mengalokasikan sebanyak-banyaknya sebesar 10% untuk karyawan melalui program Employee Stock Allocation (ESA) guna meningkatkan rasa kepemilikan terhadap perusahaan.
 
“Harga yang ditawarkan sekitar Rp250–Rp300 per saham. Price earning mencerminkan 6 kali-7,1 kali,” ungkap Wientoro, Senin (19/11/2018).
 
Selain itu, penjualan bersih Mega Perintis hingga Juni 2018 mencapai Rp254,91 miliar, naik 14% year on year dari posisi Rp223,39 miliar. Sementara itu, laba bersih yang dibukukan pada paruh pertama 2018 senilai Rp29,03 miliar.
 
Perseroan mengawali bisnis pada tahun 1999 di bidang garmen. Fokus bisnis Perseroan saat ini terbagi dalam 3 lini yakni perdagangan ritel melalui Mega Perintis dan PT Mitrelindo Global,  garmen melalui PT Mega Putra Garment, dan perdagangan / trading melalui PT Mitra Perintis Merdeka. Merek-merek Perseroan antara lain: Manzone, MOC, Men’s Top serta distributor Nike Indonesia. 

Tag : pasar modal, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top