Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Sangat Bersemangat

Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pasar obligasi saat ini sedang berada di posisi on fire atau sangat bergairah. 
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 19 November 2018  |  10:16 WIB
Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Sangat Bersemangat
obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pasar obligasi saat ini sedang berada di posisi on fire atau sangat bergairah. 

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa dengan dukungan kenaikkan tingkat suku bunga dari Bank Indonesia, pasar obligasi pelan tapi pasti sedang mencoba untuk mengubah trend dari pelemahan menjadi penguatan, setelah sekian lama memperlihatan trend penurunan harga yang cukup dalam. 

Sejauh ini, fondasi telah siap untuk menopang penguatan pasar obligasi, salah satunya adalah turunnya probabilitas potensi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed pada bulan Desember nanti yang cukup signifikan dari 75,8% awal bulan lalu menurun menjadi 68,9% per  Jumat (16/11/2018) lalu.

Hal ini didukung pernyataan Powell atas pertumbuhan ekonomi global yang menurutnya secara perlahan melambat, sehingga hal ini berpotensi untuk menahan kenaikkan tingkat suku bunga The Fed pada bulan depan. 

"Namun, apapun bisa saja terjadi saat ini.  Mencermati situasi dan kondisi akan menjadi bekal dalam menghadapi ketidakpastian," katanya dalam riset harian, Senin (19/11/2018).

Dari sisi negatifnya pun cukup banyak yang memberikan potensi pelemahan harga obligasi, salah satunya adalah proses Brexit yang ternyata tidak semulus yang dibayangkan. 

Theresa May berpotensi untuk dilengserkan melalui mosi tidak percaya. Di bawah aturan Partai Konservatif sendiri, mereka membutuhkan 48 suara untuk melakukan mosi tidak percaya, dan kabar terakhir adalah sampai saat ini baru 20 surat yang tercatat. 

Di tengah tingginya tensi tersebut, Theresa May mengatakan bahwa ia mendapatkan dukungan dari para menteri seniornya untuk proses Brexit agar tetap bergerak sesuai jadwal.

Tidak hanya itu saja, May juga mendapat dukungan dari pejabat di Uni Eropa. Tingginya tensi tersebut akan membuat proses Brexit kian rumit yang tentunya akan menambah beban baik bagi Uni Eropa maupun dari Inggris. 

Situasi dan kondisi perang dagang antara Amerika dan China ternyata masih memberikan efek panas, meskipun beberapa waktu lalu mereka menyatakan bahwa mereka sudah berdikusi disetiap level pemerintahan terkait dengan pertemuan pada tanggal 30 November 2018 nanti. 

Perseteruan ini berlanjut hingga pertemuan APEC yang di gelar di Papua Nugini kemarin. Akibat kedua negara ini, APEC kesulitan untuk menyusun kesimpulan sebuah pertemuan tingkat tinggi. 

Perseteruan ini dimulai ketika Amerika mengkomentari program Road and Belt China. Perseteruan ini, tentu sedikit banyak akan memberikan tekanan terhadap masing masing pihak pada pertemuan 30 November 2018 nanti. 

"Kami menilai masih cukup banyak sentiment negatif yang akan mempengaruhi penguatan harga obligasi. Saat ini, obligasi berdurasi 15 tahun kami melihat proses penguatan sudah mencapai batasnya. Namun untuk 5 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun masih memiliki ruang. Kami merekomendasikan buy, dengan volume sedikit," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup