Sisa "Pipeline" Penerbitan Efek Tahun Ini Rp12 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan masih mengantongi sisa pipeline penerbitan efek senilai Rp12 triliun hingga berakhirnya tahun ini.
Tegar Arief | 17 November 2018 06:24 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, SOLO -- Otoritas Jasa Keuangan masih mengantongi sisa pipeline penerbitan efek senilai Rp12 triliun hingga berakhirnya tahun ini.

Jumlah tersebut terdiri dari penerbitan saham, baik penawaran umum terbatas atau rights issue maupun Initial Public Offering (IPO), serta penerbitan obligasi korporasi dan sukuk.

"Nilai emisi pada tahun ini masih akan bertambah, tapi tidak banyak. Di kami ada sisa penerbitan Rp12 triliun saja sampai akhir tahun, saham dan surat utang," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, di Solo, Jumat (16/11/2018).

Dia menambahkan nilai emisi pada tahun ini memang lebih rendah dibandingkan realisasi 2017 yang mencapai Rp254,5 triliun. Per 9 November 2018, total nilai emisi yang tercatat di OJK hanya Rp154,09 triliun.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai emisi turun. Pertama, strategi perusahaan yang lebih wait and see dalam menghimpun pendanaan di pasar modal. Kedua, karena tingginya nilai penerbitan pada tahun lalu.

"Karena tahun lalu sudah cukup tinggi, maka tahun ini hanya tinggal menggunakan uangnya. Karena emiten juga tidak setiap tahun melakukan fundraising," terang Hoesen.

Dia memprediksi fundraising pada tahun depan tidak lebih baik dibandingkan 2018. Penyebab utamanya adalah tekanan yang berasal dari suku bunga, baik The Fed maupun Bank Indonesia (BI) yang diprediksi masih akan terjadi.

Jika suku bunga acuan kembali naik, maka perbankan juga akan melakukan penyesuaian sehingga berdampak ke cost of fund.

"Kemungkinan tahun depan nilai emisi akan sama dengan tahun ini karena memang kondisi dan kebutuhan emiten tidak mendukung," sambung Hoesen.

Sementara itu, pertumbuhan perusahaan tercatat pada tahun ini memang terbilang tinggi yakni mencapai lebih dari 50 perusahaan per hari ini. Namun, dari sisi nilai justru terbilang rendah.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi berdalih nilai yang telah ditorehkan masih cukup realistis sesuai dengan target dan kondisi pasar, yakni di kisaran Rp14 triliun. Dari sisi jumlah perusahaan, angka tersebut telah melampaui target.

"Untuk emisi saham sebenarnya dari sisi nilai itu terbilang cukup tinggi. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya angka Rp14 triliun cukup tinggi," sebutnya.

Terkait dengan target jumlah perusahaan, Inarno menyatakan otoritas pasar modal selalu menetapkan target yang konservatif yakni di kisaran 35 perusahaan baru.

Tag : saham, Obligasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top