Kiwoom Sekuritas: Secara Teoritis, Pasar Obligasi Seharusnya Melemah 

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pagi ini pasar obligasi masih berpotensi mengalami penguatan. Sebetulnya secara teoritis ketika Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga, akan menuntut imbal hasil obligasi untuk naik lebih tinggi. 
Emanuel B. Caesario | 16 November 2018 10:47 WIB
obligasi

Bisnis.com, JAKARTA--Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pagi ini pasar obligasi masih berpotensi mengalami penguatan. Sebetulnya secara teoritis ketika Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga, akan menuntut imbal hasil obligasi untuk naik lebih tinggi. 

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa sepanjang tahun ini, suku bunga acuan Bank Indonesia dan imbal hasil obligasi 10 tahun memiliki spread rata rata sebesar 246 bps.

Sehingga, apabila menilik imbal hasil obligasi 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 8,10 dan BI 7DRR yang saat ini berada di 6%, maka imbal hasil obligasi 10 tahun akan menuju ke 8,46% sehingga ada potensi pelemahan di sana. 

Sejauh ini, tentu respon kenaikkan BI 7DRR masih dapat dikatakan positif. Namun demikian, sentimen global juga harus diperhatikan. 
Salah satu yang menghangat adalah proses Brexit yang sudah berjalan mulus, saat ini kembali terguncang dengan pengunduran diri Menteri Urusan Brexit, Dominic Raab. 

Meskipun demikian, Theresa May pada akhirnya berhasil memenangkan draf kesepakatan di tingkat pertama parlemen. Sebanyak 326 yang menyatakan setuju, dan 290 yang menolak. Keyakinan Theresa May sangat penting saat ini untuk terus membawa proses ini hingga selesai. 

Selanjutnya draf ini akan dibawa ke tingkat Eropa dan dirapatkan pada tanggal 25 November nanti. 

Fokus berikutnya adalah potensi tidak adanya kenaikkan tingkat suku bunga The Fed pada akhir tahun nanti. Hal ini disampaikan oleh Powell dalam acara di Dallas. 

"Namun probabilitas kenaikkan The Fed masih berkisar 72,3%. Kami merekomendasikan beli hari ini, namun hati hati karena pergerakan akan bervariasi." ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, total transaksi meningkat, tetapi total frekuensi menurun dibandingkan hari sebelumnya di tengah adanya kenaikkan BI 7 DRR kemarin. 

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi < 1 tahun, diikuti dengan 10 – 15 tahun dan 5 – 7 tahun. Sisanya tersebar dengan volume tidak merata hingga 20 tahun. 

Obligasi yang memiliki durasi lebih dari 20 tahun, juga aktif ditransaksikan meksipun tidak banyak. 

Bank Indonesia pada akhirnya membuat kejutan dengan menaikkan tingkat suku bunganya. Hal itu sudah dinanti banyak orang karena selama ini Bank Indonesia bersikap menunggu dan bereaksi atas situasi dan kondisi yang terjadi.

Tag : Obligasi
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top