Kantongi US$4 Miliar, Inalum Siap Bayar Akuisisi Freeport Indonesia Desember 2018

PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) siap melakukan pembayaran untuk akuisisi PT Freeport Indonesia sejalan dengan telah masuknya dana senilai US$4 miliar dari penerbitan obligasi global.
M. Nurhadi Pratomo | 16 November 2018 16:37 WIB
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) siap melakukan pembayaran untuk akuisisi PT Freeport Indonesia sejalan dengan telah masuknya dana senilai US$4 miliar dari penerbitan obligasi global.
 
Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Rendi Witular mengatakan dana segar dari penerbitan obligasi global senilai Rp4 miliar telah masuk pada Kamis (15/11/2018) waktu New York, AS atau Jumat (16/11) waktu Jakarta. Dengan demikian, saat ini perseroan telah memiliki modal untuk menambah porsi kepemilikan saham di Freeport Indonesia.
 
“Dananya digunakan untuk membeli saham Freeport dan sisanya untuk refinancing utang anggota holding,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (16/11).
 
Secara detail, Rendi menyatakan dana yang akan digunakan untuk akuisisi Freeport senilai US$3,85 miliar. Rencananya, pembayaran tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat.
 
“[Pembayaran akuisisi Freeport Indonesia] Pada Desember [2018],” imbuhnya.
 
Sebagai catatan, Inalum, Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto telah melakukan penandatanganan sejumlah perjanjian sebagai kelanjutan dari Pokok-Pokok Perjanjian (Head of Agreement/HoA) terkait terkait penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia ke Inalum pada September 2018. 
 
Sejumlah perjanjian tersebut meliputi perjanjian divestasi Freeport Indonesia, perjanjian jual beli saham PT Rio Tinto Indonesia (PTRTI), dan Perjanjian Pemegang Saham Freeport Indonesia.
 
Jumlah saham Freeport Indonesia yang dimiliki Inalum akan meningkat dari 9,36% menjadi 51,23%. Pemerintah Daerah (Pemda) Papua akan memperoleh 10% dari 100% saham PTFI. 
 
Perubahan kepemilikan saham ini akan resmi terjadi setelah transaksi pembayaran sebesar US$3,85 miliar atau setara dengan Rp56 triliun kepada FCX diselesaikan sebelum akhir 2018.
 
Rendi menjelaskan alasan utama penerbitan obligasi global lebih dipilih dibandingkan sindikasi perbankan adalah adanya pertimbangan suku bunga. Instrumen surat utang memiliki tingkat bunga yang tetap dan perseroan hanya membayar kupon setiap periode yang ditentukan.
 
“Bank-bank yang tadinya akan memberikan sindikasi berubah menjadi underwriter,” terangnya.
 
Rendi mengungkapkan obligasi global yang diterbitkan perseroan memiliki total nilai pokok US$4 miliar. Surat utang tersebut terbagi ke dalam empat seri.
 
Seri pertama memiliki jumlah pokok US$1 miliar dengan tingkat kupon tetap 5,230%. Surat utang tersebut memiliki waktu jatuh tempo pada 2021.
 
Seri kedua memiliki jumlah pokok US$1,125 miliar dengan tingkat kupon tetap 5,710%. Surat utang tersebut waktu memiliki jatuh tempo pada 2023.
 
Seri ketiga memiliki jumlah pokok US$1 miliar dengan tingkat kupon tetap 6,530%. Surat utang tersebut memiliki waktu jatuh tempo pada 2028.
 
Seri keempat memiliki jumlah pokok pokok US$750 juta dengan tingkat kupon tetap 6,757%. Surat utang tersebut memiliki waktu jatuh tempo pada 2048.
 
Berdasarkan pemberitaan Bisnis sebelumnya, pencatatan obligasi global tersebut dilakukan di Singapore Exchange Ltd (SGX). Surat utang itu mendapatkan peringkat Baa2 dari Moody’s Investors Service dan BBB dari Fitch Ratings.
 
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai kupon yang dibanderol untuk penerbitan obligasi global Inalum masih terbilang wajar. Meski tidak terbilang murah, besarannya sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
 
Dia menyebut bahwa kupon yang ditawarkan menarik bagi investor. Dengan demikian, surat utang tersebut juga menjadi atraktif di pasar sekunder.

Tag : Freeport, inalum
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top