Sikap The Fed Tekan Bursa Asia, IHSG Melemah pada Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 1,45% atau 86,68 poin ke level 5.890,12 pada akhir sesi I, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,71% atau 42,63 poin ke level 5.934,18.
Aprianto Cahyo Nugroho | 09 November 2018 12:42 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (31/10/2018)./JIBI/Bisnis - Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan terus tertekan di zona merah hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (9/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 1,45% atau 86,68 poin ke level 5.890,12 pada akhir sesi I, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,71% atau 42,63 poin ke level 5.934,18.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, IHSG bergerak di level 5.885,83 – 5.936,03.

Adapun pada perdagangan Kamis (8/11), IHSG ditutup menguat 0,62% atau 36,92 poin ke posisi 5.976,81.

Sebanyak 98 saham menguat, 247 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 614 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Jumat siang.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang masing-masing melemah 6,07% dan 3,96% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG di akhir sesi  I.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG melemah dan menyeret indeks ke zona merah, dipimpin sektor konsumer yang merosot 3,55% dan industry dasar yang melemah 1,45%.

IHSG melemah di saat indeks di Asia Tenggara juga tertekan siang ini. Indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 0,77%, indeks FTSE Malay KLCI turun 0,8%, indeks SE Thailand merosot 0,5%, sedangkan indeks PSEi Filipina melemah 0,99%.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,43% dan 0,93%, sedangkan indeks Hang Seng merosot 2,39%.

Dilansir Reuters, Bursa Asia bergerak melemah setelah The Fed mempertahankan rencananya untuk terus menaikkan suku bunga secara bertahap.

Seperti yang telah diperkirakan, bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunganya dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir Kamis (8/11) waktu setempat.

Namun, The Fed juga tetap di jalur untuk melakukan pengetatan biaya pinjaman secara bertahap, ditopang sehatnya perekonomian yang hanya terganggu oleh penurunan dalam pertumbuhan investasi bisnis.

Para pembuat kebijakan di otoritas moneter AS tersebut telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini dan diperkirakan akan melakukannya kembali dalam pertemuan kebijakan berikutnya pada Desember.

 “Hasil pertemuan the Fed dan pernyataannya tidak memberikan kejutan besar, tetapi mampu memperkuat pandangan bahwa kenaikan suku bunga akan datang pada bulan Desember dan hal ini memperlemah ekuitas,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

“Pernyataan The Fed datang setelah lonjakan tajam dalam ekuitas dan memberi pasar kesempatan untuk melakukan penjualan setelah rally,” lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top