Tembus Posisi Rp14.590, Penguatan Rupiah Tertinggi Sejak 2016

Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam lantaran banyak investor yang beralih ke mata uang negara berkembang, dengan rupiah menjadi salah satu yang paling dilirik.
Mutiara Nabila | 07 November 2018 21:57 WIB
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam lantaran banyak investor yang beralih ke mata uang negara berkembang, dengan rupiah menjadi salah satu yang paling dilirik.

Pada penutupan perdagangan Rabu (7/11) rupiah ditutup menguat 214 poin atau 1,46% menjadi Rp14.590 per dolar AS, lonjakan tertinggi sejak Juni 2016 dan penguatan terbesar dibandingkan dengan mata uang di Asia lainnya. Namun, sepanjang 2018, rupiah mencatatkan pelemahan 7,09% di hadapan dolar AS.

Reli tersebut membuat rupiah mencatatkan kinerja mata uang terbaik di Asia, dan menunjukkan bahwa mata uang Garuda bisa kembali bangkit setelah terpuruk habis-habisan sepanjang tahun ini.

Dana asing telah banyak menarik aset Indonesia dalam beberapa pekan terakhir dan menjadi pertumbuhan yang kecepatannya di luar ekspektasi, ditambah dengan tingkat inflasi yang masih di kisaran 3% membuat permintaan pada rupiah bertambah.

Rupiah juga terdorong oleh pengenalan Non-Deliverable Forward di pasar domestiknya, dengan tujuan mengurangi permintaan dolar AS di pasar NDF dan menghindari adanya penimbunan dolar oleh warga domestik.

Ekonom PT Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan bahwa ada penguatan aksi beli pada obligasi dan saham Indonesia dari investor luar negeri, dengan banyaknya fundamental domestik yang menguat dan sudah diantisipasi membuat rupiah semakin perkasa.

“Rupiah juga terdorong oleh ekspektasi pertumbuhan cadangan devisa yang diprediksi naik apda Oktober, data tersebut baru akan dirilis Rabu [7/11],” ujarnya, dilansir dari Bloomberg, Rabu (7/11/2018).

Imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun anjlok 13 basis poin pada Selasa (6/11). Pada pekan lalu, imbal hasil tersebut sudah turun 35 basis poin dan menjadi penurunan terbesar sejak Juni 2018.

Laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih dari 5% dalam tujuh kuartal terakhir membuat Bank Indonesia menahan kenaikan suku bunga. Pertemuan selanjutnya akan kembali digelar oleh BI pada 15 November mendatang.

Nick Twidale, Chief Operating Officer (COO) Rakuten Securities Australia, menuturkan bahwa rupiah selama ini sudah menjadi salah satu mata uang di negara berkembang yang paling terpukul dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, penguatan kali ini wajar karena sudah anjlok terlalu dalam.

“Kemungkinan resistan rupiah akan berada di Rp14.800 – Rp14.900 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan terbaru dari perang dagang antara AS dan China setelah hasil pemilihan umum jangka menengah di AS,” papar Twidale.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top