Investor Wait and See, Reksa Dana pun Lesu Darah

Industri reksa dana yang masih mencatatkan penurunan pertumbuhan dana kelolaan sepanjang tahun ini memaksa manajer investasi memangkas target asset under management (AUM).
Tegar Arief | 07 November 2018 11:31 WIB
Pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana melambat pada tahun ini. Hingga Oktober, pertumbuhan dana kelolaan hanya 8,34% dibandingkan dengan pencapaian akhir 2017. Adapun, bila merujuk target industri yang mematok AUM sebesar Rp500 triliun tahun ini, pertumbuhan dana kelolaan hanya 9,28%. Melambatnya kinerja reksa dana pada tahun ini disebabkan oleh kondisi pasar yang masih bergejolak akibat tekanan dari global.

Bisnis.com, JAKARTA — Industri reksa dana yang masih mencatatkan penurunan pertumbuhan dana kelolaan sepanjang tahun ini memaksa manajer investasi memangkas target asset under management (AUM).

Kinerja reksa dana menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi  Rabu (7/11/2018). Berikut laporannya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diolah Bisnis, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana pada tahun ini melambat, bahkan terendah dalam 5 tahun terakhir seiring dengan bergejolaknya pasar modal.

Secara detail, hingga Oktober 2018, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana hanya 8,34% atau mencapai Rp495,66 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, total dana kelolaan industri meningkat hingga 26,5%.

Adapun, pelaku industri reksa dana menargetkan total dana kelolaan hingga pengujung tahun mencapai Rp500 triliun atau tumbuh sebesar 9,28%. Target pertumbuhan tersebut cukup rendah, mengingat pada tahun lalu, total pertumbuhan AUM industri mencapai 35,05%.

Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian menjelaskan bahwa kondisi pasar modal pada tahun ini memang penuh tantangan memaksa manajer investasi juga lebih realistis dalam menetapkan target. Bahkan, MNC Asset Management merevisi ulang target AUM.

Awal tahun ini, perseroan menetapkan target AUM senilai Rp7,5 triliun yang kemudian direvisi menjadi Rp8,5 triliun pada Februari. Tak lama kemudian, perusahaan itu kembali menaikkan target AUM menjadi Rp10 triliun karena besarnya arus investasi yang masuk.

“Akan tetapi, karena kemudian banyak investor yang mencairkan dananya di reksa dana, kami harus realistis. Kami kembali ke target awal yakni pada kisaran Rp7,2 triliun hingga Rp7,5 triliun,” katanya kepada Bisnis, Selasa (6/11/2018).

Frery menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan industri reksa dana melesu, yakni pelemahan kondisi pasar, terutama pasar saham dan aksi wait and see investor seiring dengan tekanan dari eksternal.

Sejak Mei, tuturnya, investor banyak memegang uang tunai sembari menunggu momentum tepat untuk kembali ke pasar modal. Dengan kata lain, tidak sedikit investor yang wait and see dan tidak melakukan switching ke instrumen investasi lainnya.

Nasib kurang beruntung dialami oleh perusahaan yang berada di bawah naung­an Yusuf Mansur, PT Paytren Aset Ma­najemen. Perusahaan tersebut terseok-seok menggapai target dana kelolaan yang dipatok sejak awal tahun.

Padahal, Paytren sempat merevisi target AUM, yakni dari Rp2 triliun pada awal tahun menjadi Rp3 triliun pada pertengah­an tahun ini. Saat ini, total dana kelolaan yang dihimpun oleh perseroan hanya Rp50 miliar.

Penyebab minimnya dana kelolaan kurang lebih sama, yakni karena investor mencairkan dana dan menunda untuk kembali masuk ke pasar karena kondisi belum mendukung.

“Kami berencana menggenjot pemasaran dengan me-review agen penjual,” kata Direktur Utama PT Paytren Asset Manajemen Ayu Widuri.

Sikap realistis juga ditempuh manajemen PT Sinarmas Asset Management. Berdasarkan catatan Bisnis, pada September 2018 perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp26 triliun atau naik 36,84% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu yang senilai Rp19 triliun.

Saat ini, target yang ditentukan oleh perseroan sedikit lebih rendah yakni Rp25 triliun. “Target kami Rp25 triliun dan target itu sudah hampir tercapai saat ini,” kata Jamial Salim, Direktur PT Sinarmas Asset Management.

Namun, ada pula pengelola reksa dana yang mencatatkan kinerja lumayan baik.

PT Schroders Investment Management Indonesia misalnya, mampu menghimpun kelolaan sebesar Rp84,4 triliun, atau nyaris sama dengan posisi akhir tahun lalu.

Sempat turun pada pertengahan tahun, perseroan berhasil menaikkan kembali AUM pada semester II/2018.

“Target kami akhir tahun bisa mencapai Rp85,5 triliun, ada kenaikan dari posisi per hari ini yang sudah Rp84,4 triliun,” kata Michael T. Tjoajadi, Presdir Schroders Investment Management Indonesia.

Secara terpisah, Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen lnvestasi Alvin Pattisahusiwa memilih optimistis. Tahun ini, perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp61 triliun baik dari reksa dana maupun kontrak pengelolaan dana (KPD).

Ketua Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto meyakini, target dana kelolaan Rp500 triliun akan tercapai, mengingat per akhir bulan lalu total AUM telah menyentuh Rp495 triliun.

Di sisi lain, investor masih melakukan pembelian, yang terlihat dari data net subscription senilai Rp54,55 triliun pada tahun ini.

Tag : reksa dana
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top