Manajer Investasi Pangkas Target Dana Kelolaan

Sejumlah manajer investasi memangkas target dana kelolaan atau asset under management (AUM) bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan dana kelolaan industri akibat tingginya volatilitas pasar modal sepanjang tahun ini.
Tegar Arief | 07 November 2018 07:19 WIB
Reksa Dana Jeblok. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi memangkas target dana kelolaan atau asset under management (AUM) bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan dana kelolaan industri akibat tingginya volatilitas pasar modal sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang Bisnis olah, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana pada tahun ini melambat, bahkan terendah dalam 5 tahun terakhir seiring dengan bergejolaknya pasar modal.

Secara detail, hingga Oktober 2018, pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana hanya 8,34% mencapai Rp495,66 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, total dana kelolaan industri meningkat hingga 26,5%.

Adapun, pelaku industri reksa dana menargetkan total dana kelolaan hingga pengujung tahun mencapai Rp500 triliun atau tumbuh sebesar 9,28%. Target pertumbuhan tersebut cukup rendah, mengingat pada tahun lalu, total pertumbuhan AUM industri mencapai 35,05%.

Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian menjelaskan bahwa kondisi pasar modal pada tahun ini memang penuh tantangan sehingga pelaku pasar termasuk manajer investasi juga lebih realistis dalam menetapkan target. Bahkan, MNC Asset Management merevisi ulang target AUM.

Awal tahun ini, perseroan menetapkan target AUM senilai Rp7,5 triliun yang kemudian direvisi menjadi Rp8,5 triliun pada Februari. Tak lama kemudian, perusahaan itu kembali menaikkan target AUM menjadi Rp10 triliun karena besarnya arus investasi yang masuk.

"Tetapi ,karena kemudian banyak investor yang mencairkan dananya di reksa dana, kami harus realistis. Kami kembali ke target awal yakni pada kisaran Rp7,2 triliun hingga Rp7,5 triliun," katanya, kepada Bisnis, Selasa (6/11).

Menurutnya, revisi tersebut dilakukan karena perseroan realistis menyikapi kondisi pasar modal. Pencairan dana dilakukan oleh investor sepanjang periode Mei—Juli 2018. Saat ini, dana nasabah yang dikelola MNC Asset Management berada pada kisaran Rp6 triliun.

Frery menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan industri reksa dana melesu, yakni pelemahan kondisi pasar, terutama pasar saham dan aksi wait and see investor seiring dengan tekanan dari eksternal.

"Dua faktor itu yang menyebabkan industri pertumbuhannya melambat. Tetapi kami yakin pasar akan kembali pulih. Biasanya akhir tahun banyak dana yang masuk ke pasar modal," harapnya.

Sejak Mei lalu, imbuhnya, investor banyak memegang uang tunai sembari menunggu momentum tepat untuk kembali ke pasar modal. Dengan kata lain, tidak sedikit investor yang wait and see dan tidak melakukan switching ke instrumen investasi lainnya.

Untuk saat ini, Frery mengimbau kepada investor untuk kembali masuk ke pasar modal, terutama untuk reksa dana saham. “Ini saat tepat untuk masuk ke reksa dana saham. Kalau masuk ke reksa dana jenis lain bisa bertahap, tapi reksa dana saham harus dimaksimalkan.”

Di sisi lain, investor tercatat masih terus melakukan pembelian. Hal itu terlihat dari data OJK yang menunjukkan masih terjadi net subscription senilai Rp54,55 triliun pada tahun ini.

PT Sinarmas Asset Management juga bersikap sama. Berdasarkan catatan Bisnis, pada September 2018 perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp26 triliun atau naik sebesar 36,84% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu yang senilai Rp19 triliun.

Saat ini, target yang ditentukan oleh perseroan sedikit lebih rendah yakni Rp25 triliun. "Target kami Rp25 triliun dan target itu sudah hampir tercapai saat ini," kata Direktur PT Sinarmas Asset Management Jamial Salim.

Per Selasa (6/11), total AUM Sinarmas adalah Rp24,4 triliun. Perseroan berharap dana kelolaan bisa meningkat tajam pada pengujung tahun. Sebab, saat ini Sinarmas tengah menyiapkan produk investasi alternatif berbentuk Dana Investasi Real Estate (DIRE). Dana yang ditargetkan dari penerbitan DIRE itu cukup tinggi, yakni Rp12 triliun.

Nasib kurang beruntung dialami oleh perusahaan yang berada di bawah naungan Yusuf Mansur, PT Paytren Aset Manajemen. Perusahaan tersebut terseok-seok menggapai target dana kelolaan yang dipatok sejak awal tahun.

Padahal, Paytren sempat merevisi target AUM yakni dari Rp2 triliun pada awal tahun menjadi Rp3 triliun pada pertengahan tahun ini. Saat ini, total dana kelolaan yang dihimpun oleh perseroan hanya Rp50 miliar.

Penyebab minimnya dana kelolaan kurang lebih sama, yakni karena investor mencairkan dana dan menunda untuk kembali masuk ke pasar karena kondisi belum mendukung. "Kami berencana menggenjot pemasaran dengan mereview agen penjual," kata Direktur Utama PT Paytren Asset Manajemen Ayu Widuri.

Selain melakukan review terhadap agen penjualan, perseroan juga akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat sehingga minat untuk berinvestasi di reksa dana meningkat.

Sementara itu, sejumlah manajer investasi telah mencatatkan kinerja yang cukup positif dari sisi dana kelolaan. Tidak sedikit fund manager yang berhasil merealisasikan atau minimal mendekati target AUM yang ditetapkan.

PT Schroders Investment Management Indonesia per hari ini telah berhasil menghimpun dana kelolaan mencapai Rp84,4 triliun. Jumlah tersebut sama dengan posisi AUM pada akhir tahun lalu. Sempat turun pada pertengahan tahun, perseroan berhasil menaikkan kembali AUM pada semester II/2018.

"Target kami akhir tahun bisa mencapai Rp85,5 triliun, ada kenaikan dari posisi per hari ini yang sudah Rp84,4 triliun," kata President Direktur Schroders Investment Management Indonesia Michael T. Tjoajadi.

Mayoritas investor Schroders Indonesia berasal dari institusi yang memiliki pengetahuan lebih matang terkait kondisi pasar modal. Dengan demikian, pelemahan pasar dimanfaatkan dengan melakukan pembelian produk reksa dana.

Optimisme senada disampaikan oleh Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen lnvestasi Alvin Pattisahusiwa. Tahun ini, perseroan menargetkan dana kelolaan senilai Rp61 triliun baik dari reksa dana maupun kontrak pengelolaan dana (KPD).

Per akhir September, total dana kelolaan perseroan mencapai Rp49 triliun untuk reksa dana. Adapun total dana kelolaan termasuk KPD senilai Rp55 triliun. "Kami proyeksikan bisa mencapai Rp61 triliun pada akhir tahun, dan kami yakin itu akan tercapai karena kami juga masih banyak produk yang siap dipasarkan," kata dia.

Alvin melihat tren pada akhir tahun akan membaik. Artinya, peluang investor untuk menambah investasinya di pasar modal termasuk industri reksa dana jelang pergantian tahun cukup besar.

"Kami juga melihat tahun depan masih positif. Akhir tahun mudah-mudahan ada perbaikan sehingga AUM juga bisa meningkat," ujarnya.

Ketua Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto meyakini, target dana kelolaan Rp500 triliun akan tercapai, mengingat per akhir bulan lalu total AUM telah menyentuh Rp495 triliun.

Menurutnya, saat ini kondisi pasar telah menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan naiknya indeks harga saham gabungan (IHSG). Ini menurutnya mengindikasikan bahwa banyak investor telah masuk ke pasar modal, termasuk reksa dana.

"Harga-harga efek juga sudah murah, sehingga yang punya view long term bagus untuk memulai subscription secara bertahap. Dan ini sekarang sudah mulai terjadi di pasar," jelasnya.

Di sisi lain, investor juga telah cukup mampu berpikir secara jernih, di mana pelemahan pasar justru dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi beli. Dia meyakini, pada bulan terakhir tahun ini AUM industri reksa dana akan kembali menyentuh angka Rp500 triliun.

 

 
 
 

Tag : manajer investasi, reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top