Sukuk Bank Indonesia Akan Tingkatkan Likuiditas Pasar

Sejumlah analis menilai rencana Bank Indonesia untuk menerbitkan instrumen Sukuk Bank Indonesia akan memberikan manfaat yang cukup baik bagi pengembangan likuiditas pasar obligasi Indonesia.
Emanuel B. Caesario | 07 November 2018 07:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya memberikan keterangan pers, Kamis (1/11). KSSK mengklaim perekonomian dan sektor keuangan dalam kondisi stabil dan terjaga baik, dibuktikan dengan pertumbuhan pinjaman perbankan yang mencapai 22%. - Bisnis/Rinaldi Mohammad Azka

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah analis menilai rencana Bank Indonesia untuk menerbitkan instrumen Sukuk Bank Indonesia akan memberikan manfaat yang cukup baik bagi pengembangan likuiditas pasar obligasi Indonesia.

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, mengatakan bahwa saat ini instrumen tersebut sedang dalam pembahasan final. BI menerbitkan instrumen ini untuk memperluas produk sukuk dan mendorong likuiditas transaksi sukuk di pasar sekunder. “Dalam sebulan ke depan kita akan keluarkan,” katanya pekan lalu.

Perry mengatakan, saat ini sebagian besar insutrumen sukuk yang dipegang investor maupun Bank Indonesia dipegang hingga jatuh tempo atau hold to maturity. Hal ini menyebabkan rendahnya likuiditas di pasar sekunder.

Bank Indonesia akan menggunakan instrumen sukuk negara atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tenor di atas 1 tahun yang dimiliki oleh Bank Indonesia sebagai underliying atau aset dasar bagi penerbitan insutrumen baru tersebut.

Tenor insturmen Sukuk Bank Indonesia akan diterbitkan beragam, bisa 2 minggu, 1 bulan atau 3 bulan.

“Instrumen ini ditujukan untuk mulai kembangkan yang selama ini hold to maturity kami putarkan, dengan mengeluarkna sukuk Bank Indonesia. Dengan ini, sukuk yang selama ini sudah dikeluarkan menjadi likuid karena ditransaksikan di antara perbankan di pasar uang,” katanya.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa insturmen ini akan menjadi sarana baru bagi Bank Indesia untuk pengendalian moneter agar pasar lebih stabil.

“Instrumen ini akan mendorong likuiditas di pasar menjadi lebih bagus sehingga potensi tekanan yang tidak terkontrol dari luar akan bisa kita kendalikan,” katanya, Selasa (6/11/2018).

Ramdhan mengatakan, pasar yang sangat volatile memang memberi ruang bagi trader untuk mendapatkan keuntungan, tetapi secara umum tidak baik bagi sistem keuangan dan kestabilan perekonomian dalam negeri.

Pasar obligasi yang seharusnya memiliki karakter minim resiko justru menjadi meningkat resikonya akibat volatilitas yang dipicu oleh ketidakstabilan ekternal yang sulit dikontrol. Hal ini tidak terlepas dari masih tingginya porsi investor asing dalam SBN yang mencapai 37,03% per Senin (5/11/2018).

Hingga Senin (5/11/2018), kepemilikan gross Bank Indonesia atas outstanding SBSN mencapai Rp15,08 triliun atau 3,86% dari total outstanding SBSN. Dari jumlah tersebut, kepemilikan net Bank Indonesia yang tidak untuk operasi moneter dengan bank adalah Rp5,23 triliun.

Sementara itu, pada SUN nilai kepemilikan gross Bank Indonesia mencapai Rp203,92 triliun atau 10,44% dari total outstanding SUN. Hanya Rp73,83 triliun yang tidak digunakan untuk operasi moneter dengan bank.

Ramdhan menilai, inovasi instrumen Sukuk Bank Indonesia ini akan diterima pasar dengan baik dan meningkatkan citra instumen sukuk di pasar. Pasar obligasi dan terutama pasar sukuk negara yang selama ini kurang likuid akan sedikit membaik dengan hadirnya instrumen ini.

“Memang pasar sukuk masih di bawah 10% dari total pasar obligasi nasional, teatpi pasar kita semakin tumbuh. Kita memang butuh instrumen-instrumen yang membuat pasar semakin likuid,” katanya.

Desmon Silitonga, Riset Analis Capital Asset Management, mengatakan bahwa Sukuk Bank Indonesia akan menjadi media yang baik bagi instrumen moneter Bank Indonesia. Karakter sukuk yang mengharuskan adanya jaminan atau aset dasar menjadikannya lebih menarik bagi investor, termasuk bank yang berbasis syariah.

Menurutnya, wacana instrumen ini cukup menarik dan bermanfaat, tinggal selanjutnya diterjemahkan secara tepat dalam implementasinya.

“Kadang-kadang dari sisi konsep atau peraturannya bagus, tetapi implementasi di lapangan yang sering terkendala. Kalau ini bisa dijalankan, ini akan jadi salah satu cara untuk memperdalam pasar sukuk,” katanya.

Desmon menilai, Bank Indonesia mungkin harus mengambil kebijakan lanjutan yang mendorong investor yang menjadi sasaran instrumen ini mau menggunakannya. Jangan sampai, setelah diterbikan, investor justru memandang alternatif lain yang sudah tersedia di pasar malah lebih menarik.

Menurutnya, sebagai alternatif instrumen moneter, investor khususnya bank kemungkinan akan lebih memilih yang konvensional sebab likuiditas sukuk selama ini terkenal lebih terbatas.

“Mungkin perlu ada diskresi Bank Indonesia yang mengharuskan adanya sukuk ini dalam portofolio investor sehingga hadirnya instrumen ini akan efektif,” katanya.

 
 
 

Tag : Obligasi, sukuk
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top