IHSG Berbalik Melemah di Akhir Sesi I, Tiga Sektor Jadi Penekan

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berbalik melemah 0,25% atau 14,54 poin ke level 5.909,39 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat 0,31% atau 18,29 poin ke level 5.942,22.
Aprianto Cahyo Nugroho | 07 November 2018 13:02 WIB
Karyawan melintas di bawah layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan berbalik melemah pada pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (7/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berbalik melemah 0,25% atau 14,54 poin ke level 5.909,39 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat 0,31% atau 18,29 poin ke level 5.942,22.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, IHSG bergerak di level 5.902,76 – 5.947,61.

Adapun pada perdagangan Selasa (6/11), IHSG ditutup menguat 0,06% atau 3,34 poin ke posisi 5.923,93.

Sebanyak 173 saham menguat, 161 saham melemah, dan 280 saham stagnan dari 612 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Jumat siang.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang masing-masing melemah 1,64% dan 1,57% menjadi penekan utama terhadap pergerakan IHSG pada akhir sesi I.

Tiga dari sembilan sektor melemah dan menyeret IHSG ke zona merah, dipimpin sektor konsumer yang melemah 1,05%.

Di sisi lain, enam sektor menguat dan membatasi pelemahan IHSG lebih lanjut, dipimpin sektor aneka industri yang menguat 1,32%, disusul sektor properti yang menguat 0,88%.

Equity Technical Analyst Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG memiliki pola bearish meeting line dengan candlestick bergerak bearish counter attack. 

Menurutnya, indeks seakan pulled back upper bollinger bands dan berindikasi dead cross pada indikator RSI.

“Sehingga diperkirakan terkoreksi pada perdagangan selanjutnya dengan support 5.852-5.955,” tulisnya dalam riset.

IHSG melemah di saat indeks di Asia Tenggara bergerak variatif siang ini. Indeks FTSE Straits Time Singapura dan FTSE Malay KLCI menguat masing-masing 0,61% dan 0,18%, sedangkan indeks SE Thailand dan PSEi Filipina melemah 0,24% dan 1,85%.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing menguat 0,25% dan 0,44%, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,45%.

Bursa saham Asia berhasil membalik koreksinya ke wilayah positif saat hasil awal pemilu paruh waktu di negara tersebut tampak menunjukkan membaiknya peluang Partai Republik di Kongres.

Pemilu kongres tersebut memang banyak dipandang sebagai referendum mengenai gaya polarisasi Presiden Donald Trump beserta kebijakan "Amerika First" yang diusungnya. 

Baik indikator bursa AS maupun dolar AS sebelumnya terbebani kekhawatiran mengenai kekalahan kubu Republik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.

Partai Demokrat, oposisi Partai Republik yang dipimpin Trump, diprediksi akan mengambil 23 kursi yang mereka butuhkan untuk mendapatkan mayoritas kursi di DPR.

Namun jajak pendapat juga menunjukkan peluang yang lebih sedikit bagi kubu Demokrat untuk mendapatkan dominasi di Senat AS.

"Sepertinya Partai Republik memiliki kesempatan nyata untuk tidak hanya mengambil kendali di Senat tetapi juga di DPR. Ini tampaknya mendorong saham naik," kata Hirokazu Kabeya, kepala strategi global di Daiwa Securities, seperti dikutip Reuters.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top