Rupiah Menguat Tajam Seiring Penantian Hasil Pemilihan Kongres AS

Nilai tukar rupiah melambung ke titik tertinggi selama satu bulan karena dana asing berbalik kembali masuk ke perdagangan mata uang di pasar Asia seiring dengan masa-masa menuju pemilihan umum jangka menengah di Amerika Serikat.
Mutiara Nabila | 06 November 2018 18:33 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melambung ke titik tertinggi selama satu bulan karena dana asing berbalik kembali masuk ke perdagangan mata uang di pasar Asia seiring dengan masa-masa menuju pemilihan umum jangka menengah di Amerika Serikat.

Wakil Presiden China Wang mengatakan bahwa Beijing tetap berkomitmen untuk kembali melakukan pembicaraan perdagangan dengan AS sambil memberikan peringatan akan bahaya ‘populisme yang condong ke kanan’ dan ‘unilateralisme’ pada pidatonya di Singapura.

Kepala Pelaksana di Rakuten Securities Australian Nick Twidale mengatakan bahwa rupiah telah menjadi mata uang yang paling terpukul di antara seluruh mata uang di emerging market (EM) sehingga tidak mengejutkan apabila rupiah berhasil menguat tajam kali ini.

“Pergerakan selanjutnya untuk rupiah dan mata uang di negara berkembang lainnya akan bergantung pada aksi selanjutnya dalam situasi perdagangan antara AS dan China, serta perkembangan terbaru dari pemilihan umum jangka menengah di AS,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/11/2018).

Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia Pasifik di Oanda, mengatakan bahwa untuk pemilihan Kongres di AS tersebut, konsensus sudah menunjukkan bahwa hasil pemilihan kali ini akan membawa reaksi besar pada pasar mata uang.

Indeks dolar AS bergerak stabil pada perdagangan Selasa (6/11) dengan penurunan 0,02% menjadi 96,29 poin, dengan imbal hasil tenor 10 tahun AS naik 1 basis poin ke 3,21%.

Kurs rupiah juga terkerek oleh kenaikan aksi beli di saham Indonesia dalam sepekan belakangan hingga Senin (5/11). Perusahaan Morgan Stanley memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berangsur pulih. Akan tetapi, risiko masih bisa membawa pelemahan di seputar sektor pendanaan.

“Sejauh ini, kami sudah melihat kepulihan ekspor yang melebar ke kenaikan permintaan domestik, terutama pada komoditas yang terkait dengan anggaran modal. Tingkat belanja konsumen juga memuncak dari posisi sebelumnya,” kata Kepala Strategis Investasi dan Portofolio Morgan Stanley Wealth Management Lisa Shalett.

Indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada Oktober turun ke 119,2 poin dari posisi 122,4 poin pada September.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top