REKOMENDASI OBLIGASI: Investor Disarankan Masuk Pasar SUN pada Desember

Kinerja pasar obligasi sepanjang November diperkirakan masih tertekan, dibayangi oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan sejumlah sentimen negatif dari global. Adapun, investor disarankan untuk menahan investasinya hingga Desember 2018.
Emanuel B. Caesario | 06 November 2018 07:10 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pasar obligasi sepanjang November diperkirakan masih tertekan, dibayangi oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan sejumlah sentimen negatif dari global. Adapun, investor disarankan untuk menahan investasinya hingga Desember 2018.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China XI Jinping akan menjadi perhatian terpenting pada November 2018.

Bila pertemuan itu tidak berhasil, AS sudah menyiapkan bea masuk baru untuk impor produk China senilai US$257 miliar, yang berpotensi semakin memperkuat dolar. 

Bagi China, hal itu akan menjadi titik balik reformasi ekonominya untuk mulai kembali mengeksplorasi dan tidak lagi mengandalkan  AS sebagai mitra bisnis utama.

Dari dalam negeri, potensi kenaikan BI 7 Days Repo Rate akan lebih tinggi, meskipun masih di bawah 50%. Menurutnya, BI harus fokus menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah proyeksi current account deficit atau CAD kuartal III/2018 yang akan melebar 3%—3,5% dari PDB  atau lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal II/2018 sebesar 3% dan kuartal I/2018 sebesar 2,16%.

Dia menilai, potensi kenaikan BI 7 DRR akan meningkat bila hingga akhir tahun CAD masih tinggi. Apalagi, bila didukung kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi melemahkan rupiah.

Kementerian perdagangan AS telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2018 yang mencapai 3,5%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III/2017 yang sebesar 2,8%. Hal ini menjadi landasan bagi The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga. Kini, probabilitasnya berada pada kisaran 73,1%.

Nico mengatakan, dengan semua sentimen itu, tren kenaikan imbal hasil masih akan terjadi pada November. Setelah sebelumnya tren hampir berbalik menjadi penurunan, gema stabilitas ekonomi Italia membuat imbal hasil dalam negeri kembali merangkak naik.

Biasanya, Oktober dan November merupakan masa tenang bagi rupiah dan pasar obligasi. Namun, aneka sentimen global seperti stabilitas ekonmi Italia dan Afrika Selatan, tekanan Trump kepada The Fed, hingga turunnya Kanselir Jerman Merkel mendorong dinamika global.

Nico mengatakan, pelemahan rupiah dan gempuran sentimen global ini akan mendorong imbal hasil SUN 5 tahun bergerak pada rentang 8,35%—8,60%, sedangkan SUN 10 tahun pada rentang 8,60%—8,80%. Sementara itu, SUN 15 tahun pada rentang 8,80%—8,90% dan SUN 20 tahun 9,05%—9,20%.

“Kami menyarankan investor yang ingin melakukan pembelian obligasi dapat bertahan terlebih dahulu. Mengambil melalui lelang mungkin merupakan jalan terbaik,” katanya dalam riset, Senin (5/11).


//TAHAN INVESTASI//
Nico mengatakan, investor dapat masuk di pasar sekunder ketika harga SUN mencapai titik terendahnya, yang diproyeksikan terjadi pada Desember ketika The Fed menaikkan suku bunga. BI 7 DRR kemungkinan akan menyusulnya yang menyebabkan kenaikan yield SUN.

Menurutnya, strategi durasi investasi sebaiknya tetap pada jangka menengah hingga panjang. Seri acuan baru tahun depan yang sudah diterbikan, yakni FR0077 dan FR0078 boleh mulai dikoleksi sebagai persiapan tahun depan.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa dalam jangka menengah, prospek pasar obligasi masih terkendala oleh pelemahan rupiah. Meski begitu, pihaknya masih memberikan outlook agak bullish bagi pasar obligasi dalam jangka menengah.

“Kami masih mempertahankan posisi SUN 20 tahun sebesar 50% dari rencana investasi dan mempertahankan pandangan untuk melakukan akumulasi beli di tengah pelemahan harga obligasi,” katanya melalui riset.

Anup mengatakan, kekhawatiran atas ketegangan perdagangan AS-China dan kenaikan bunga global yang dipimpin oleh AS masih merupakan risiko utama pasar bulan ini. Yuan semakin melemah mendekati level CNY 7 per dolar AS sehingga terus membebani mata uang regional.

“Kami berharap Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI 7 DRR 25 bps tahun ini, baik secara pre-emptive pada November atau tepat setelah pertemuan FOMC pada Desember,” katanya.

Anup mengatakan, sentimen pasar terhadap SUN saat ini adalah netral. Namun, investor tetap perlu berhati-hati. Beberapa data ekonomi yang dirilis pada Oktober memang mengalahkan perkiraan konsensus, tetapi obligasi lokal tetap sensitif terhadap risiko eksternal.

Neraca perdagangan September surplus US$227 juta, sedangkan proyeksi konsensus Bloomberg defisit US$500 juta. Indeks Harga Konsumen atau CPI meningkat 2,88% yoy, sedangkan proyeksi konsensus Bloomberg 2,09%.

Selain itu, lelang-lelang yang digelar pemerintah juga cukup sukses. Adanya seri baru SUN yang akan menjadi seri acuan tahun depan mendorong aksi beli investor asing. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top