Saham Adaro Energy (ADRO) Masih Menjanjikan, Ini Penjelasannya

Saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) memang tengah terpukul akibat penurunan laba dalam laporan keuangan per September 2018. Namun demikian, sejumlah analis masih melihat peluang perbaikan kinerja ke depan sehingga sahamnya cukup menjanjikan.
Hafiyyan | 06 November 2018 16:19 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) memang tengah terpukul akibat penurunan laba dalam laporan keuangan per September 2018. Namun demikian, sejumlah analis masih melihat peluang perbaikan kinerja ke depan sehingga sahamnya cukup menjanjikan.

Pada periode 9 bulan pertama 2018, laba bersih Adaro mencapai US$312,71 juta, menurun 16,04% year-on-year (yoy) dari sebelumnya US$372,45 juta. Padahal, pendapatan usaha naik 9,35% yoy menjadi US$2,66 miliar dari posisi per kuartal III/2017 senilai US$2,44 miliar.

Analis Indo Premier Sekuritas Frederick Daniel Tanggela menyampaikan, penurunan laba bersih Adaro disebabkan oleh pencatatan kerugian akuntansi satu kali sebesar US$66 juta akibat transaksi akuisisi tambang Kestrel. Oleh karena itu, pencapaian laba bersih perseroan per September 2018 hanya 64% estimasi konsensus dan 70% estimasi Indo Premier.

“Kami meyakini laba Adaro akan bertambah US$130 juta pada kuartal IV/2018. Hal ini didukung dengan peningkatan kinerja operasional dan cuaca yang kondusif,” paparnya dalam riset, dikutip Senin (5/11/2018).

Sampai akhir 2018, dia mengestimasi produksi batu bara Adaro mencapai 51,8 juta ton, atau di bawah target manajemen sebesar 54 juta—56 juta ton. Namun, dengan harga batu bara yang yang tinggi, perusahaan dapat membukukan kenaikan pendapatan tahun ini menjadi US$3,72 miliar dan laba bersih US$513 juta.

Frederick pun merevisi target harga saham ADRO menjadi Rp2.500 dari sebelumnya Rp2.450 dengan rekomendasi beli. Nilai itu mencerminkan Price to Earning Ratio (PER) 7,7 kali pada 2018, dan 6,8 kali pada 2019.

Pada penutupan perdagangan Senin (5/11/2018), saham ADRO turun 10 poin atau 0,63% menjadi Rp1.575. Harga melorot 5,41% dalam sepekan terakhir, dan melesu 15,32% sepanjang tahun berjalan. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp50,38 triliun dengan PER 8,08 kali.

Dalam riset berbeda, tim analis JP Morgan menyampaikan, ADRO merupakan saham pilihan utama di antara emiten pertambangan batu bara lainnya di Asia Tenggara. Kinerja Adaro didorong oleh peningkatan produksi, memanasnya harga jual, dan pemasukan baru dari Kestrel.

“Namun demikian, cuaca hujan sudah dimulai sehingga membatasi produksi. Sampai akhir 2018, diperkirakan Adaro menghasilkan batu bara sejumlah 52,5 juta ton,” paparnya.

Pada tahun ini, Adaro diperkirakan membukukan pendapatan US$3,57 miliar dan laba bersih US$519 juta. Rekomendasi saham ADRO ialah beli dengan target harga Rp2.650 sampai dengan Juni 2019.

Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan menuturkan, kendati laba bersih Adaro menurun per September 2018 akibat transaksi Kestrel, pihaknya masih memertahankan estimasi terhadap perusahaan itu.

“Kami memertahankan rekomendasi beli terhadap sahamnya dengan target Rp2.880,” imbuhnya.

Sementara itu, selain 3 analis yang sudah disebutkan, ada 7 analis lainnya yang memperbarui pandangan terhadap Adaro selepas melaporkan kinerja per September 2018. Sejumlah 5 di antaranya merekomendasikan beli dengan target harga di kisaran Rp2.050—Rp2.650, dan 2 analis lainnya bersikap netral dengan target harga Rp2.100—2.220.

Tag : adaro
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top