PERSPEKTIF: Diversifikasikan Portofolio, Berinvestasilah saat IHSG Melemah

Di tengah kondisi market yang masih berfluktuasi, stay invested karena secara fundamental makro dan mikro Indonesia cukup manageable dan pertumbuhan laba masih menarik sekitar 8%.
Priyanto Soedarsono, Chief Investment Officer PT CIMB-Principal Asset Management | 05 November 2018 12:02 WIB
Saham penggerak IHSG 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang tahun berjalan 2018, pasar saham Indonesia dibayangi oleh sejumlah sentimen eksternal, yang menarik arus modal asing keluar dari pasar domestik. Kondisi itu menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 7,07% secara year to date ke level 5.906 pada akhir perdagangan Jumat (2/11).

Sentimen itu, antara lain datang dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat, kenaikan suku bunga The Fed, dan tensi perang dagang AS-China. Di sisi lain, ekonomi India dan Jepang sedang menggeliat. Arus modal pun mencari safe haven dan keluar dari pasar negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Di tengah kondisi global itu, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid. Kendati mengalami defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD), pemerintah dan Bank Indonesia cukup mampu mengambil strategi yang jitu.

Pada September 2018, neraca perdagangan mengalami surplus US$230 juta dibandingkan dengan Agustus 2018. Kondisi itu mencerminkan impor yang tertekan oleh kebijakan pembatasan impor dan diperluasnya kebijakan biodiesel.

Di sisi lain, tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tidak dapat dipungkiri, ikut membebani pasar saham. Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak pada level Rp13.263—Rp15.284 per dolar AS dalam 52 pekan terakhir. Adapun, rata-rata nilai tukar rupiah dalam setahun ke belakang masih berada di level Rp14.073 per dolar AS.

Penulis menilai koreksi IHSG masih normal karena masih di kisaran minus 1% standar deviasi. Pada 3 tahun terakhir, rata-rata valuasi IHSG berada di level 16 kali price earnings ratio (PER). Saat tertekan, valuasi IHSG turun ke level 14,74 kali PER dan saat ini telah rebound ke level 15 kali PER.

Hingga akhir 2018, CIMB-Principal Asset Management memperkirakan IHSG akan mendarat di level 6.300. Proyeksi itu mencerminkan PER 16 kali.

Selain faktor sentimen eksternal yang menarik keluar arus modal asing, kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia relatif solid. Pada kuartal II/2018, misalnya, pertumbuhan laba emiten tercatat mencapai 10,4%. Pada kuartal III/2018, kondisi tersebut berpotensi berlanjut, bahkan lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan laba pada kuartal sebelumnya.

Secara umum, kinerja emiten pada kuartal III/2018 relatif sejalan dengan proyeksi (in line). Bahkan ada beberapa yang memberi kejutan dengan kinerja di atas proyeksi pasar.

Kinerja in-line antara lain dicetak oleh emiten di sektor barang-barang konsumsi dan peritel. Hal itu tidak terlepas dari membaiknya Consumer Consumer Index dan Purchasing Manager Index pada kuartal lalu. Pada kuartal III/2018, penjualan mobil nasional juga tercatat naik 7% menjadi 857.000 unit.

PT Astra International Tbk., misalnya, mencetak pertumbuhan laba 20,58% secara tahunan menjadi Rp17,07 triliun pada kuartal III/2018. Adapun, laba PT Gudang Garam Tbk. naik 6,33% year-on-year menjadi Rp5,76 triliun pada kuartal III/2018.

Di sektor perbankan, kinerjanya didorong oleh menguatnya fungsi intermediasi bank yang tercermin lewat pertumbuhan kredit 12,7%.

Senada, kinerja emiten di sektor pertambangan dan migas juga masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Emiten di sektor tersebut mendapat momentum positif dari memanasnya harga batu bara dan minyak seiring dengan pertumbuhan permintaan global.

Secara historis, kinerja emiten pada kuartal IV/2018 berpotensi meningkat. Perusahaan yang masih ketinggalan dalam membelanjakan anggaran sepanjang Januari—September 2018 akan menggenjot realisasi belanja pada kuartal terakhir.

SEKTOR UNGGULAN

Secara sektoral, penulis menilai ada tiga sektor utama yang masih diunggulkan, yakni perbankan, barang-barang konsumsi (consumer staples), dan peritel (consumer discretionary).

Sektor perbankan didorong oleh pertumbuhan kredit yang cukup kuat, terutama bank-bank besar. Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan BI, bank-bank besar yang memiliki current account saving account (CASA) lebar dapat mengelola tingkat bunga deposito. Dengan demikian, margin bank-bank besar tidak terlalu tertekan dan masih cukup menarik.

Sektor barang-barang konsumsi dan peritel juga masih menjanjikan karena Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi besar dan berbasis pada konsumsi domestik. Kondisi itu membuat ekspektasi pertumbuhan laba emiten di sektor tersebut masih cukup tinggi atau setidaknya stabil.

Di sisi lain, sektor pertambangan masih tergantung pada perkembangan pasar global. Perlambatan ekonomi di benua Eropa dan Amerika bisa jadi menekan permintaan komoditas tambang yang berimbas pada koreksi harga. Risiko tersebut membuat kami mempertimbangkan kembali rating emiten di sektor pertambangan sekaligus menimbang kembali valuasinya yang sudah cukup mahal.

Pada kuartal IV/2018, kinerja positif emiten dalam dua kuartal terakhir dan meredanya sentimen eksternal diharapkan membuat arus modal asing kembali masuk ke pasar saham. Saat ini, dari 100 emiten yang sahamnya kami monitor, tingkat kepemilikan asing telah turun ke level sekitar 20%--27%.

Setelah periode capital outflow berlalu, fase berikutnya yang sedang dinanti yakni arus modal asing kembali masuk pasar saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi undemanding di Asia Pasifik, seperti Indonesia. Investor asing berpotensi kembali melirik saham-saham blue chips dan saham-saham lain yang memiliki valuasi menarik.

Di tengah kondisi market yang masih berfluktuasi, penulis merekomendasikan investor untuk stay invested karena secara fundamental makro dan mikro Indonesia cukup manageable dan pertumbuhan laba masih menarik sekitar 8%.

Strateginya, yakni dengan mendiversifikasi portofolio pada berbagai kelas aset. Investasi secara berkala pada saat market turun berpotensi menggalang capital gain yang tinggi apabila dieksekusi pada entry point yang tepat. Apalagi, saat ini, IHSG memiliki valuasi yang menarik di kisaran 14 kali PE dari rerata 3 tahun pada level 16 kali PE.

Kini pasar sedang menanti apresiasi pelaku pasar terhadap emiten-emiten yang membukukan kinerja cemerlang pada pada kuartal ketiga tahun ini.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (5/11/2018)

 

Tag : rekomendasi saham
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top