Emisi Obligasi 2019 Diprediksi Stagnan

Emisi Obligasi 2019 Diprediksi Stagnan
Tegar Arief | 04 November 2018 10:59 WIB
Obligasi

Bisnis.com, BADUNG - Nilai emisi dari penerbitan obligasi korporasi pada tahun depan diprediksi akan stagnan dibandingkan capaian pada tahun ini, yakni di kisaran Rp100 triliun.

Nilai penerbitan tersebut masih belum mampu melampaui atau minimal menyamai capaian pada 2017 yang cukup tinggi yakni senilai Rp156,71 triliun. Penerbitan obligasi pada tahun depan mayoritas dilakukan karena kebutuhan refinancing.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan, minat penerbitan obligasi pada tahun depan masih ada karena utang jatuh tempo cukup tinggi yakni mencapai Rp85 triliun. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan tahun ini yang hanya Rp75 triliun.

"Penerbitan masih ada karena kebutuhan refinancing cukup besar. Tapi nilai emisinya tidak akan lebih besar dibandingkan tahun ini, nilainya bisa dibilang stagnan. Penerbitan hanya karena refinancing itu," kata di Badung, Bali, Minggu (4/11/2018).

Tahun depan, pelaku pasar masih dibayangi oleh kenaikan suku bunga acuan, baik di Amerika Serikat (AS) maupun di dalam negeri. Namun menurut Handy, AS akan lebih moderat dalam kebijakan suku bunga.

Jika Fed Funds Rate dinaikkan secra agresif pada semester I/2019, kata dia, maka pada semester II/2019 AS akan cenderung bertahan. Sedangkan kondisi di dalam negeri, menurutnya telah diantisipasi oleh Bank Indonesia sejak jauh-jauh hari.

Di sisi lain, tingkat inflasi di dalam negeri cukup rendah yakni di kisaran 3,1% sehingga dia meyakini dampak dari kenaikan suku bunga ini tidak akan signifikan ke pasar modal. "AS tidak mungkin akan menaikkan terus karena berisiko. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menerbitkan obligasi," imbuhnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai emisi obligasi dan suku korporasi per 26 Oktober lalu tercatat senilai Rp103,21 triiun yang berasal dari 68 penawaran. Nilai emisi itu turun sebesar 15,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni senilai Rp121,74 triliun yang berasal dari 69 penawaran.

Sementara itu, data yang tercatat di pasar modal hingga saat ini terdapat pipeline obligasi mencapai Rp9,65 triliun yang berasal dari 12 penawaran umum, di mana rata-rata adalah penawaran umum berkelanjutan.

Tahun ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan penerbitan obligasi korporasi mencapai 100 penawaran termasuk penawaran umum berkelanjutan. Otoritas pasar modal optimistis perusahaan masih akan menerbitkan surat utang untuk kebutuhan ekspansi.

"Kebutuhan untuk pendanaan dari berbagai instrumen itu masih ada, termasuk salah satunya obligasi karena ada kebutuhan untuk struktur modal dan working capital," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Nyoman Yetna.

Menurutnya, alasan terbesar perusahaan swasta menerbitkan obligasi pada tahun depan adalah adanya kebutuhan refinancing yang cukup besar. Sehingga, kendati ada potensi kegaduhan politik instrumen pendanaan ini masih akan dilirik.

"Kami sudah melihat dari struktur permodalan perusahaan, mereka ada banyak kebutuhan refinancing dan untuk menanganinya obligasi menjadi pilihan utama," tegasnya.

RETURN POSITIF

Sementara itu, Handy Yunianto meyakini return obligasi pada tahun depan masih bisa positif meskipun ada kenaikan suku bunga. Sebab, entry level pada tahun depan mulai pada angka yang cukup tinggi yakni di kisaran 8,1%. Ini berbeda dengan tahun ini yang dimulai pada level 6%.

Dia menjelaskan, pada tahun ini porsi asing dalam pasar obligasi menurun cukup signifikan menjadi 37% secara year to date. Keluarnya asing ini masih bisa diatasi oleh investor lokal terutama dana pensiun dan asuransi. "Mereka bisa menahan meskipun asing banyak keluar."

Tahun depan, Handy memproyeksikan asing tidak akan banyak keluar dari pasar obligasi. Faktor yang mempengaruhi pertama adalah stabilitas nilai tukar rupiah. Selama rupiah berada pada level Rp15.500-Rp15.700 maka investor asing masih mampu bertahan.

Kedua adalah minimnya porsi asing pada obligasi bertenor pendek setelah banyak yang angkat kaki pada tahun ini. "Ini sudah keluar banyak, sebelumnya porsi mereka 12% sekarang tinggal 5% jadi tekanan ke depan akan berkurang dari obligasi hot money ini," jelasnya.

Ketiga, posisi Indonesia yang menjadi salah satu pilihan investasi terbaik di negara emerging market karena yield yang ditawarkan cukup kompetitif. Keempat, potensi penurunan yield karena inflasi yang rendah. "Return investasi pada obligasi pada tahun depan kemungkinan ada di kisaran 9%."

Hingga kuartal III/2018, Mandiri Sekuritas telah melaksanakan total sebanyak 30 mandat untuk obligasi dengan porsi yang mencapai Rp13 triliun. Sejauh ini, perusahaan tersebut telah menguasai pangsa pasar hingga 15%.

Data Penerbitan Obligasi dan Sukuk Korporasi

Tahun   Penawaran Umum          Nilai Emisi (Rp triliun)

2013       58                                           57,76

2014       51                                           48,64

2015       50                                           63,27

2016       74                                           116,18

2017       88                                           156,71

2018       68                                           103,21*

Ket *: Per 26 Oktober

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top