Pertamina Emisi Global Bond US$750 Juta

PT Pertamina (Persero) menerbitkan global bondatau obligasi global dengan nominal US$750 juta setelah sempat melakukan penundanaan beberapa waktu lalu.
M. Nurhadi Pratomo | 03 November 2018 06:03 WIB
Pekerja beraktivitas di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (25/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— PT Pertamina (Persero) menerbitkan global bond atau obligasi global dengan nominal US$750 juta setelah sempat melakukan penundanaan beberapa waktu lalu.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Muchtar mengatakan pihaknya telah menerbitkan obligasi global senilai US$750 juta. Surat utang tersebut memiliki tenor 30 tahun dengan dibanderol kupon 6,5%.

“Memang penerbitan tersebut sempat tertunda menunggu perkembangan pasar yang lebih baik,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/11/2018).

Sampai berita ini diturunkan, Syahrial belum membeberkan lebih lanjut terkait waktu pencatatan serta lokasi pencatatan. Selain itu, Pertamina juga belum menjabarkan secara detail mengenai tujuan penggunaan dana.

Sementara itu, dalam siaran persnya, Kamis (1/11), Fitch Ratings menyampaikan telah menyematkan peringkat BBB untuk surat utang Pertamina senilai US$750 juta dengan kupon 6,5%. Surat utang tersebut akan jatuh tempo pada 2048.

Fitch Ratings mengungkapkan surat utang tersebut merupakan bagian dari program penerbitan jangka menengah surat utang Pertamina dengan total US$10 miliar.

Adapun, peringkat yang disematkan kepada Pertamina setara dengan milik Indonesia. Hal tersebut didasarkan kepada penilaian tentang hubungan yang kuat antara Pertamina dan negara serta insetif untuk memberikan dukungan.

Di sisi lain, Fitch menilai Pertamina memiliki likuiditas yang kuat dengan saldo kas US$5,2 miliar pada akhir 2017 atau turun tipis dari US$5,3 miliar pada akhir 2016. Selain itu, perseroan minyak dan gas milik negara tersebut disebut memiliki akses yang kuat terhadap pendanaan.

“Fitch yakin Pertamina akan mempertahankan aksesnya yang kuat ke bank dan pasar obligasi mengingat keterkaitan negara dan perseroan. Mereka akan dapat memenuhi kewajiban utangnya dan mendapatkan pendanaan untuk ekspansi,” tulis Fitch dalam siaran pers yang dipublikasikan melalui situs resmi perseroan.

Fitch Ratings menambahkan waktu jatuh tempo utang-utang Pertamina tersebar dengan baik. Pasalnya, perseroan tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan hingga 2021.

Secara terpisah, Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia menilai penerbitan obligasi yang dilakukan Pertamina sebagai langkah restrukturisasi utang. Artinya, perseroan ingin mengganti utang jangka pendek hingga menengah menjadi jangka panjang.

[Tidak kemahalan] karena ini [tenor] 30 tahun jadi sesuai dengan peringkatnya,” jelasnya.

Meski sempat dikabarkan batal menerbitkan obligasi global, Ramdhan sebelumnya telah memprediksi Pertamina akan tetap menempuh aksi korporasi tersebut. Pasalnya, perseroan membutuhkan dana segar untuk menambah tenaga keuangan dan ekspansi.

Pada pertengahan pekan ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno menyebut telah menyarankan agar Pertamina menunda penerbitan obligasi global. Pertimbangan tersebut sejalan dengan tingka kupon yang menurutnya masih terlalu tinggi.

Rini mengatakan telah meminta Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk menunda emisi lantaran kupon yang dibanderol lebih tinggi dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang telah menerbitkan instrumen sejenis lebih dulu. Sebagai gantinya, dia menyarankan agar perseroan menggunakan fasilitas yang masih ada dari perbankan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top