Isu Eksternal Mereda, Rupiah Terkerek Ke Rp14.955 per Dolar AS

Rupiah ditutup menguat tajam kembali ke posisi Rp14.900-an karena faktor eksternal mereda.
Mutiara Nabila | 02 November 2018 18:52 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah ditutup menguat tajam kembali ke posisi Rp14.900-an karena faktor eksternal mereda.

Beberapa sentimen yang diduga menjadi penguatan rupiah antaralain Inggris yang keluar dari Uni Eropa dengan damai dan ancaman tambahan tarif dagang dari Amerika Serikat kepada China masih memerlukan waktu untuk terwujud.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/11) rupiah ditutup menguat tajam 173 poin atau 1,15% menjadi Rp14.955 per dolar AS dan mencatatkan pelemahan di hadapan dolar AS mencapai 9,36% secara year-to-date (ytd).

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa penguatan rupiah kali ini karena data perekonomian domestik yang masih relatif baik, bersama dengan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang tak henti melakukan sejumlah intervensi sepanjang tahun ini.

“BI dari 2 Mei sampai saat ini sudah melakukan intervensi, inflasi masih aman, NDF [Non-deliverable fund] juga sudah berjalan dan pasar merespons positif, dan surat berharga juga sudah berjalan semua, ini menjadi data positif yang menguatkan rupiah,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/11).

Selain itu faktor eksternal yang selama ini menjadi beban bagi pergerakan rupiah kini sudah ssedikit mereda dengan Inggris yang berhasil keluar dari Uni Eropa atau Brexit dengan damai dan terselesaikannya masalah Irlandia.

“Permasalahan Irlandia sudah terselesaikan, itu menguatkan mata uang pound si hadapan dolar AS. Kalau dilihat dari Uni Eropa juga Inggris dan Uni Eropa juga masih ada kerja sama baik dalam ekonomi juga dalam bidang militer sehingga Brexit itu membuat pasar berpandangan positif, bahkan mengalahkan isu perang dagang,” lanjutnya.

Perang dagang antara AS dan China yang digadang-gadang semakin memanas juga saat ini tidak dihiraukan oleh pelaku pasar. Pada awal Desember mendatang, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengeluarkan tarif tambahan pada sisa barang China yang belum masuk dalam daftar tarif jika pertemuan antar kedua presiden negara itu tidak membuahkan kesepakatan baru terkait dengan perdagangan.

“Itu masih lama, itu yang membuat rupiah mengalami penguatan,” tambahnya.

Namun, pada Jumat (2/11) pukul 21.00 WIB masih ada data non-farm payroll (NFP) AS yang akan dirilis. Data tersebut diprediksi bisa kembali melemahkan rupiah dalam waktu dekat.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS di hadapan sejumlah mata uang utama, pada Jumat (2/11) tercatat turun 0,22% ke 96,05 poin.

“Kalau seandainya data itu cukup bagus, kemungkinan besar indeks dolar AS akan kembali menguat. Hal itu akan berdampak pada rupiah dalam perdagangan Senin [5/11]. Dampaknya akan jangka pendek, karena apresiasi rupiah dari Rp15.200-an ke bawah Rp15.000 sudah cukup bagus,” papar Ibrahim.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran antara Rp14.925 – Rp14.990 per dolar AS. Adapun, untuk akhir tahun, setelah perang dagang dan kenaikan suku bunga AS ada kejelasan, diperkirakan rupiah bisa kembali melanjutkan penguatan ke Rp14.600-an per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top