Rupiah Menguat ke 14.955, Gubernur BI Sebut Faktor DNDF

Instrumen lindung nilai baru, Domestic Non Deliverable Forward, terbukti ampuh mendorong sentimen postif terhadap nilai tukar rupiah.
Hadijah Alaydrus | 02 November 2018 17:10 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Instrumen lindung nilai baru, Domestic Non Deliverable Forward, terbukti ampuh mendorong sentimen postif terhadap nilai tukar rupiah. Rupiah pada Jumat (2/11/2018), pukul 16.00 WIB, ditutup menguat pada level Rp14.955 atau menguat sebesar 1,14%. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan sejak diluncurkan pada 1 November 2018 lalu, perbankan dan korporasi sangat aktif melakukan transaksi di pasar valas dengan instrumen DNDF.

Dari aktifnya transaksi yang mendorong stabilitas likuiditas pasar uang, BI mencatat kurs DNDF pada hari ini juga menguat pada level Rp15.120 per dolar AS. Menurut Perry, penguatan di pasar DNDF ini diikuti oleh penguatan di kurs NDF offshore. 

"Pergerakan pasar sangat bagus, supply dan demand terus bergerak jadi ini penguatan rupiah itu adalah murni mekanisme pasar," tegas Perry. 

Dengan adanya instrumen baru ini, pengusaha dan investor dapat memenuhi kebutuhan valas melalui berbagai pilihan, seperti spot, swap dan DNDF. Hingga hari kedua ini, Perry menuturkan transaksi DNDF telah diikuti oleh 11 bank di Tanah Air. Bank tersebut a.l. Bank Mandiri, Bank Permata, BNI, BCA, NISP dan UoB.

Dalam kesempatan ini, Perry menambahkan penguatan rupiah juga ditopang dengan mulai masuknya investasi asing di pasar uang Tanah Air. BI mencatat Rp1,9 triliun aliran dana asing yang masuk ke pasar SBN pada minggu ini. 

Dengan demikian, total aliran dana asing yang masuk ke dalam negeri sejak awal tahun hingga awal November ini mencapai Rp28,9 triliun.  "Sehingga ini juga mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Perry. Dalam merespon penguatan keyakinan pasar ini, dia menegaskan BI dan pemerintah akan terus bekerja sama mendorong kebijakan fiskal dan moneter serta langkah konkrit lainnya dalam rangka menurunkan defisit transaksi berjalan.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) bersama dengan 16 bank pelaku pasar utama di pasar valuta asing (valas) akhirnya resmi melakukan transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) pada Kamis (1/11/2018).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan transaksi pada hari pertama peluncuran cukup aktif. "Ada 16 bank, banyak yang berminat," ungkapnya, Kamis (1/11).

Meski ada banyak bank yang berminat, tapi bank sentral Indonesia hanya memperbolehkan bank-bank berstatus Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II ke atas untuk ikut mentransaksikan DNDF. Bank BUKU II adalah bank dengan modal inti Rp1 triliun sampai kurang dari Rp5 triliun, BUKU III bermodal inti Rp5 triliun sampai kurang dari Rp30 triliun, sedangkan BUKU IV adalah bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun.

Hingga Kamis (1/11) pukul 09.49 WIB, kurs DNDF tenor 1 bulan berada di posisi Rp15.257-Rp 15.263. Sementara itu, kurs DNDF 3 bulan berada di kisaran Rp15.380-Rp15.420.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top