MNC Sekuritas: SUN Ditopang Stabilitas Rupiah

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Nagara akan bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, Jumat (2/11/2018), dengan kecenderungan masih mengalami kenaikan yang didukung oleh indikator teknikal serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Emanuel B. Caesario | 02 November 2018 09:40 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA - MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Nagara akan bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, Jumat (2/11/2018), dengan kecenderungan masih mengalami kenaikan yang didukung oleh indikator teknikal serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. 

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, menilai bahwa dampak diberlakukannya transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) mulai 1 November 2018 cukup efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sehingga akan berdampak positif terhadap pasar surat utang. 

Hanya saja, kenaikan harga yang terjadi akan dibatasi oleh rencana lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan dilakukan oleh pemerintah pada hari Selasa, 6 november 2018 serta jelang disampaikannya data sektor tenaga kerja Amerika Serikat.

"Dengan masih adanya peluang kenaikan harga, maka kami menyarankan kepada investor untuk melakukan strategi trading jangka pendek memanfaatkan momentum tren kenaikan harga, sebelum harga Surat Utang Negara mulai memasuki area jenuh beli atau overbought," katanya dalam riset harian, Jumat (2/11/2018). 

Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati di antaranya adalah sebagai berikut : SR008, SR009, FR0053, FR0061, FR0035, FR0043, FR0070, FR0077, FR0042, FR0054, FR0058, FR0068 dan FR0072.

Menurutnya, secara teknikal, kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada beberapa hari perdagangan terakhir telah mendorong terbentuknya sinyal tren kenaikan harga pada keseluruhan tenor Surat Utang Negara.  "Hal tersebut dalam jangka pendek akan mendukung terjadinya kenaikan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder," katanya.

Review Perdagangan Kemarin

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika mendukung terjadinya kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 1 November 2018.

Kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 3 bps hingga 75 bps sehingga mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara yang berkisar antara 1 bps hingga 17 bps dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 6 bps. 

Kenaikan harga yang terjadi pada Surat Utang Negara bertenor pendek yang berkisar antara 4 bps hingga 20 bps mendorong terjadinya penurunan imbal hasil hingga sebesar 12 bps. 

Sementara itu, harga dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah terlihat mengalami kenaikan hingga sebesar 75 bps telah mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang berkisar antara 5 bps hingga 17 bps. 

Adapun pada tenor panjang, kenaikan harga yang terjadi berkisar antara 10 bps hingga 60 bps mendorong terjadinya penurunan imbal hasil hingga sebesar 6 bps. 

Kenaikan Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 5 bps hingga 7 bps, di mana untuk tenor 5 tahun berada di level 8,22%, tenor 10 tahun di level 8,44%, tenor 15 tahun di level 8,71% dan pada tenor 20 tahun di level 8,90%.

Sempat mengalami penurunan harga di awal perdagangan seiring dengan kenaikan imbal hasil surat utang global, harga Surat Utang Negara secara bertahap menunjukkan kenaikan yang didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika. 

Kenaikan harga pada perdagangan kemarin juga didorong oleh membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). 

Hanya saja, kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin masih belum diikuti oleh kenaikan volume perdagangan, mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menahan diri untuk melakukan transaksi di pasar sekunder. 

Sementara itu, data inflasi Oktober 2018 yang melebihi estimasi pelaku pasar tidak berdampak negatif terhadap pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder, dikarenakan laju inflasi di sepanjang tahun 2018 yang masih terkendali.

Badan Pusat Statsistik menyampaikan bahwa pada bulan Oktober 2018 terjadi inflasi sebesar 0,28% (MoM) yang terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran.

Kelompok bahan makanan naik sebesar 0,15%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,27%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,42%; kelompok sandang sebesar 0,54%; kelompok kesehatan sebesar 0,06%; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,09%; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,26%. 

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2018, antara lain: cabai merah, bensin, tarif sewa rumah, beras, jeruk, nasi dengan lauk, rokok kretek filter, besi beton, tarif kontrak rumah, semen, upah pembantu rumah tangga, emas perhiasan, dan tarif jalan tol. 

Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain: telur ayam ras, tarif angkutan udara, bawang merah, daging ayam ras, kentang, melon, dan minyak goreng. 

Dengan adanya inflasi tersebut maka inflasi kalender di tahun 2018 (YTD) mencapai 2,22% dan inflasi tahunan (YoY) sebesar 3,16%. Adapun estimasi analis terhadap inflasi di bulan Oktober 2018 adalah sebesar 0,19% (MoM) dan 3,06% (YoY).

Kondisi berbeda didapati pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, yang justru mengalami penurunan harga yang berdampak terhadap kenaikan imbal hasilnya. Koreksi harga tersebut terjadi seiring dengan kenaikan imbal hasil surat utang global, di mana penurunan harga pada tenor panjang lebih besar dibandingkan yang didapati pada tenor pendek. 

Harga dari INDO23 mengalami penurunan sebesar 6 bps sehingga mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 2 bps di level 4,378%. 

Sedangkan harga dari INDO28 mengalami penurunan sebesar 20 bps yang berakibat terhadap kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,862%. 

Adapun untuk INDO43, penurunan harga yang terjadi mencapai 60 bps sehingga mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil seebsar 5 bps di level 5,484%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp7,68 triliun dari 37 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp1,27 triliun. 

Obligasi Negara seri FR0077 kembali menjadi Surat Utang negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,61 triliun dari 103 kali transaksi di harga rata - rata 98,91% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp814,24 miliar dari 47 kali transaksi di harga rata - rata 98,66%. 

Adapun Sukuk Negara Ritel seri SR009 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp99,63 miliar dari 26 kali transaksi di harga rata - rata 99,15% yang diikuti oleh perdagangan Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS08052019 senilai Rp75,0 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 96,95%.

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,60 triliun dari 45 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. 

Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Global Mediacom Tahap I Tahun 2017 Seri A (SIBMTR01ACN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp300,0 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,02% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Tahap IV Tahun 2018 Seri B (FIFA03BCN4) senilai Rp286,0 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,00%.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup menguat sebesar 75,00 pts (0,49%) di level 15127,50 per Dollar Amerika. 

Bergerak dengan mengalami penguatan di sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 15125,00 hingga 15203,00 per Dollar Amerika, penguatan nilai tukar Rupiah terjadi seiring dengan pergerakan mata uang regional yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika. 

Mata uang Baht Thailand (THB) memimpin penguatan mata uang regional, dengan mengalami penguatan sebesar 0,58% yang diikuti oleh mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,52% dan mata uang Rupiah.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan di awal bulan November 2018 beregrak bervariasi dengan beragamnya katalis yang ada di pasar surat utang. 

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing - masing di level 3,134% dan 3,376% jelang disampaikannya data sektor tenaga kerja di Amerika Serikat. 

Sedangkan imbal hasil surat utang Jerman dan Inggris bergerak dengan mengalami kenaikan, di level 0,401% dan 1,455%. 

Adapun surat utang regional yang ditutup dengan penurunan, diantaranya adalah surat utang Jepang yang ditutup turun di level 0,116% dan surat utang China yang diutup turun di level 3,491%.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup