Perlambatan Properti di China Tambah Tekanan untuk Logam

Perlambatan properti di China akan lebih lanjut menekan permintaan logam yang telah terpukul perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 01 November 2018 16:05 WIB
Ilustrasi logam mineral - Reuters/Yuriko Nakao

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan properti di China akan lebih lanjut menekan permintaan logam yang telah terpukul perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS.

Harga logam pun bergerak menuju penurunan tahunan pertamanya dalam tiga tahun, menurut  unit GMK Holdings Co., yang memiliki smelter tembaga swasta terbesar di Negeri Panda.

“Ekspektasi di sisi makro telah memburuk sejak pertengahan tahun,” kata Jiang Hang, kepala riset investasi komoditas di GM Corporation Ltd., seperti dikutip Bloomberg. GM adalah unit investasi GMK, yang memiliki pabrik tembaga Xiangguang di Shandong.

“Penurunan saat ini dalam penjualan properti akan menjadi isu untuk waktu yang agak lama. Itu juga akan membuat investasi melambat secara bertahap.”

Inflasi harga rumah China melambat pada September untuk pertama kalinya dalam setengah tahun, menambah tanda-tanda perlambatan pasar properti perumahan yang telah dipicu langkah pembatasan perumahan oleh pemerintah.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang permintaan China untuk logam seperti tembaga dan bahan-bahan lain yang banyak digunakan dalam konstruksi.

“Terlihat pula semakin banyak bukti bahwa perang dagang merugikan ekonomi dan konsumsi logam,” lanjut Jiang.

Menurut data pemerintah China, pengiriman unit pendingin udara turun 8,5% pada September dari tahun sebelumnya. Sementara itu, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur China tergelincir pada Oktober dan indeks pesanan baru untuk ekspor turun ke level terendah sejak awal 2016.

Situasinya bisa menjadi lebih buruk. Pemerintah AS dikabarkan sedang mempersiapkan pengumuman tarif untuk seluruh impor China pada awal Desember jika diskusi yang direncanakan berlangsung antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping gagal meredakan perang dagang.

“Penguatan dolar AS dapat menyebabkan lapisan pelemahan lain, diikuti pelemahan dari yuan,” tambah Jiang. “Semua ini akan menekan komoditas dalam jangka panjang.”

Nilai tukar yuan melemah ke level terendah dalam satu dekade terhadap dolar AS pekan ini, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index menanjak ke level tertinggi sejak Mei 2017.

Sementara itu, indeks London Metal Exchange untuk enam logam tersungkur sekitar 16% tahun ini, menuju penurunan tahunan pertama sejak 2015.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logam

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top