Pemerintah Targetkan Pemasaran ST-002 Minimal Rp1 Triliun

Pemerintah menargetkan pemasaran Sukuk Tabungan seri ST-002 minimal dapat mencapai Rp1 triliun dengan basis investor ritel baru yang lebih luas.
Emanuel B. Caesario | 01 November 2018 12:03 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawab pertanyaan sebelum meninggalkan kantor Basarnas Jakarta, untuk mencari informasi terkait 20 pegawai Kementerian Keuangan dalam pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh, Senin (29/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah menargetkan pemasaran Sukuk Tabungan seri ST-002 minimal dapat mencapai Rp1 triliun dengan basis investor ritel baru yang lebih luas.

Pemerintah baru saja membuka masa penawaran ST-002 pagi ini, Kamis (1/11/2018) dan akan berlangsung hingga Kamis (22/11/2018) mendatang. Instrumen ini akan dipasarkan secara online oleh 11 mitra distribusi.

Sebanyak 6 di antaranya adalah bank, yakni Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Permata, Bank BRI, dan Bank BTN. Perusahaan efek yakni Trimegah Sekuritas, sedangkan perusahaan efek khusus yakni Bareksa dan Tanamduit. Lalu, financial technology yakni Investree dan Modalku.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan, mengatakan bahwa berbeda dibandingkan 2 seri instrumen Saving Bond Retail (SBR) yang juga dipasarkan secara online tahun ini, pada pemasaran ST-002 ini pemerintah melibatkan peran serta influencer media sosial untuk melakukan edukasi dan sosialisasi.

“Saya ingin melihat dalam 22 hari ke depan dengan metode yang sama seperti SBR dan bahkan lebih, karena kita akan boosting dengan para influencer, target kami Rp1 triliun kami harapkan bisa lebih dari itu,” katanya usai peluncuran ST-002, Kamis (1/11/2018).

Sri mengatakan, pemerintah berharap pada influencer yang diajak pemerintah bisa mulai melakuakan penetrasi jauh lebih luas untuk mengkomunikasikan instrumen ini sebagai pilihan instrumen yang logis dan alamiah.

Menurutnya, saat ini basis investor SBN ritel syariah cukup besar, mencapai 220.000 orang, jauh lebih besar dari basis investor SBN konvensional seperti ORI015 lalu yang mencapai 46.000. Namun, dari sisi nilai investasinya jauh lebih kecil dibandingkan pada instrumen konvensional.

Dirinya menilai masih banyak anggapan keliru yang berkembang di kalangan masyarakat yang menyebabkan adanya sikap penolakan terhadap instrumen-instrumen yang bersifat utang.

“Seolah-olah itu haram atau najis, padahal enggak. Kita perlu bersama-sama kembangkan ini. Kalau sukuk ini distigmakan negatif, ini tidak akan berkembang. Kita justru mengerdilkan potensi yang sangat besar,” katanya.

Adapun, ST-002 ditawarkan dengan kupon mengambang dengan floor atau kupon minimal 8,3% dan tenor 2 tahun. Investor ritel dapat memesan instrumen ini mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 miliar. Insturmen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi dapat ditebus lebih awal setelah 1 tahun.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top