BEI Pastikan Sistem T+2 Transaksi Saham Berjalan Lancar

Bursa Efek Indonesia memastikan infrastruktur, proses, dan sistem bagi implementasi penyelesaian transaksi saham dari T+3 menjadi T+2 pada 26 November 2018 mendatang sepenuhnya siap.
Emanuel B. Caesario | 01 November 2018 11:54 WIB
Karyawan berjalan melintasi layar informasi Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia memastikan infrastruktur, proses, dan sistem bagi implementasi penyelesaian transaksi saham dari T+3 menjadi T+2 pada 26 November 2018 mendatang sepenuhnya siap.

Irvan Susandy, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia, mengatakan self regulatory organization (SRO) yang terdiri atas BEI, KPEI dan KSEI sudah mematangkan seluruh infrastruktur pendukung untuk implementasi tersebut.

Menurutnya, faktor paling krusial bagi kesuksesan implementasi T+2 adalah kesuksesan sosialisasi sistem ini kepada seluruh pelaku pasar, terutama kalangan investor institusi dari luar negeri yang memiliki zona waktu berbeda dengan Indonesia.

Meskipun demikian, SRO sudah melakukan sosialisasi kepada banyak investor asing melalui konferensi video. Lagi pula, investor-investor tersebut umumnya sudah terbiasa dengan mekanisme penyelesaian transaksi T+2, sebab sudah ada 23 bursa global yang mengadopsi sistem tersebut.

Irvan mengatakan, SRO berharap tidak terjadi kegagalan operasional pada Rabu (28/11/2018). Sebab, pada tanggal tersebut akan dilakukan settlement atas hasil perdagangan 2 hari, yakni hari terakhir sistem T+3 yakni Jumat (23/11/2018) dan hari pertama T+2 yakni Senin (26/11/2018).

Untuk memastikan kelancaran proses settlemen, SRO akan memantau kesiapan efek yang telah ditransaksikan oleh para pelaku pasar di kedua hari tersebut agar benar-benar tersedia pada hari settlement.

Bila gagal, SRO akan memakai mekanisme yang selama ini sudah ada di pasar, yakni mencari efek yang tersedia di pasar tunai, atau melalui program securities lending and borrowing (SLB) atau alternate cash settlement (ACS).

Sejauh ini, SRO sudah melakukan 5 kali pengujian sistem ini dan melibatkan 105 anggota bursa serta 18 bank kustodian. SRO masih akan melakukan uji coba 3 kali lagi. SRO juga sudah berkoordinasi internsif dengan para vendor penyedia sistem back office dari pada anggota bursa dan memastikan kesiapan seluruh sistem.

“Dengan skenario terburuk pun, SRO sudah siapkan jalan keluarnya,” katanya, Rabu (31/10/2018).

Untuk mencegah dampak kompleksitas terhadap perubahan sistem ini, SRO telah meminta emiten untuk tidak menetapkan recording date atas aksi korporasi mereka pada masa transisi 26-28 November 2018. Recording date akan berjalan normal kembali pada Kamis (29/11/2018).

Tag : transaksi saham
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top