Mirae Asset Sekuritas: Pasar SUN Cenderung Meningkat Terbatas

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (31/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi dengan kecenderungan meningkat terbatas.
Emanuel B. Caesario | 31 Oktober 2018 09:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Rabu (31/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi dengan kecenderungan meningkat terbatas.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa sentimen positif didorong oleh menurunnya tensi perang dagang dan berlanjutnya penurunan harga minyak mentah dunia.

Namun, sentimen positif tersebut dibatasi oleh kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun.

Dhian mengatakan, di tengah minimnya rilis data krusial ekonomi AS, investor global fokus terhadap pernyataan Trump yang memperkirakan akan ada kesepakatan besar dengan Tiongkok terkait dengan perdagangan internasional bilateral sekaligus meredakan tensi perang dagang antar kedua negara.

Hal ini menurunkan kekhawatiran terhadap risiko pasar modal global yang tercermin dari turunnya CBOE Volatility Index (VIX) sebesar 5,47% ke level 23,35 poin.

Hal tersebut, kemudian direspon oleh investor global dengan mengalihkan fokusnya ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham dibandingkan dengan obligasi yang pada akhirnya mendorong yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun naik ke level 3,12% (sebelumnya 3,09%).

Di sisi lain, turunnya tensi perang dagang tidak diikuti dengan penuruan aset safe haven seperti dolar AS karena di saat bersamaan melambatnya ekonomi Zona Euro pada akhirnya mendorong pelemahan mata uang Euro terhadap dolar AS sebesar 0,05% ke level €0,88.

Data awal pertumbuhan ekonomi Euro per kuartal III-2018 melambat ke level 1,7% (YoY) dari sebelumnya 2,2% dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,8% (YoY).

Melambatnya ekonomi Kawasan Euro yang sebelumnya juga diawali dengan melambatnya ekonomi AS dan Tiongkok memicu kekhawatiran pasar terhadap turunnya demand terhadap minyak mentah.

Hal ini pada akhirnya menyebabkan harga minyak mentah dunia melanjutkan momen penurunan di mana kategori WTI turun sebesar 1,28% ke level $66,42 per barel sementara kategori Brent turun sebesar 1,85% ke level $75,91 per barel pada perdagangan terakhir.

"Didasarkan pada proyeksi kenaikan harga SUN di pasar sekunder pada hari ini, investor bisa melakukan aksi short term trading untuk beberapa seri yang tergolong likuid seperti FR0063, FR0077, dan FR0075," katanya dalam riset harian, Rabu (31/10/2018).

Selain itu, lanjutnya, bagi investor yang telah memperoleh margin keuntungan sejauh ini, disarankan untuk merealisasikan profit pada perdagangan hari ini mengingat pada perdagangan esok hari berpotensi untuk terjadi penurunan harga SUN di pasar sekunder.

Hal ini utamanya didorong oleh rilis beberapa data tenaga kerja AS seperti ADP Employment Change yang diperkirakan meningkat dan beberapa data krusial ekonomi Zona Euro seperti inflasi (diperkirakan meningkat) dan pengangguran (diperkirakan stagnan).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023): 89,80 (8,37%) - 90,20 (8,26%)
FR0064 (15 Mei 2028): 83,90 (8,64%) - 84,50 (8,53%)
FR0065 (15 Mei 2033): 82,25 (8,81%) - 82,70 (8,75%)
FR0075 (15 Mei 2038): 86,00 (9,04%) - 86,50 (8,98%)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih bergerak di rentang Rp15.198 – Rp15.240 dengan kecenderungan menguat terbatas (apresiasi terbatas) hari ini.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top