Panen Besar Masih Berpotensi Tekan Harga Komoditas Pertanian

Harga komoditas biji-bijian menghijau tipis setelah sempat turun dengan kedelai menuju titik terendah selama sebulan karena tertekan oleh panen di Amerika Serikat yang melimpah, bersamaan dengan adanya hambatan pada ekspor efek dari perang dagang dengan China.
Mutiara Nabila | 30 Oktober 2018 21:09 WIB
Mesin pemanen kedelai tengah beroperasi di ladang Brasil - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas biji-bijian menghijau tipis setelah sempat turun dengan kedelai menuju titik terendah selama sebulan karena tertekan oleh panen di Amerika Serikat yang melimpah, bersamaan dengan adanya hambatan pada ekspor efek dari perang dagang dengan China.

Harga jagung juga mengalami penurunan dalam penjualan teknikal dan aksi pengambilan keuntungan setelah sempat menyentuh tertinggi selama sepekan, diikuti gandum yang juga menurun setelah sempat menguat karena perbaikan permintaan ekspor.

Selain itu, penguatan dolar AS juga membuat ekspor menjadi semakin mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS sehingga makin memberikan tekanan bagi harga biji-bijian.

Cuaca yang ideal pada masa panen di Midwest AS turut menekan harga karena kebanyakan petani memperkirakan memanen jagung dan kedelai dalam jumlah besar tanpa hambatan. Sebelumnya, curah hujan yang tinggi dan muncul lebih awal pada bulan ini sempat membuat panen terhambat dan merusak tanaman terutama untuk komoditas kedelai.

Presiden US Commodities di Iowa Don Roose menuturkan bahwa jumlah panen kedelai di AS akan cukup besar.

“Meskipun jumlahnya turun dari sebelumnya, tetapi masih ada yang lain. Kami masih memiliki pasokan yang jumlahnya melimpah,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa (30/10/2018).

Pada perdagangan Selasa (30/10), harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami kenaikan tipis 0,75 poin atau 0,09% menjadi US$853 sen per bushel setelah sebelumnya sempat menyentuh US$837 sen per bushel.

Kemudian, harga jagung tidak bergerak di posisi US$366,75 sen per bushel setelah pada sesi perdagangan hari sebelumnya turun US$1 sen ke posisi tersebut. Sementara itu, harga gandum masih mengalami penurunan 2 poin atau 0.39% menjadi US$505,25 sen per bushel.

Data Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan panen kedelai AS akan rampung 70%, masih di bawah rata-rata tapi naik dari sebelumnya yang hanya mencapai 53% pada pekan lalu. Kemudian, panen jagung diperkirakan mencapai 64% dari keseluruhan, masih sejalan dengan laju rata-rata.

Laju ekspor kedelai AS yang terhambat masih menjadi kekhawatiran karena China sebagai pembeli kedelai terbesar di dunia, masih menghindari pasokan dari AS karena terlibat perang dagang dengan AS.

Pada Senin (29/10) USDA melaporkan bahwa sejumlah pengekspor swasta sudah menjual 120.000 ton kedelai ke pembeli yang dirahasiakan, agensi tersebut melaporkan adanya pemeriksaan ekspor kedelai yang lebih rumit pada pekan lalu.

Namun, laju penjualan dan pengiriman masih cukup baik dibandingkan dengan tahun lalu, dengan sejumlah trader memperkirakan pasokan kedelai dari AS akan tetap membeludak.

Sementara itu, petani kedelai di Brasil diperkirakan akan memanen kedelai dalam jumlah besar pada musim depan karena cuaca yang mendukung.

Tag : komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top