Gandum Dekati Tren Bearish, Cuaca Masih Membayangi

Setelah sejumlah negara produsen gandum mengalami gejolak selama beberapa bulan terakhir, hedge fund kini bertaruh bahwa kekhawatiran terkait dengan pasokan sudah mulai mereda.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 30 Oktober 2018  |  14:38 WIB
Gandum Dekati Tren Bearish, Cuaca Masih Membayangi
Ladang gandum -

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah sejumlah negara produsen gandum mengalami gejolak selama beberapa bulan terakhir, hedge fund kini bertaruh bahwa kekhawatiran terkait dengan pasokan sudah mulai mereda.

Sepanjang tahun ini, harga gandum sudah mencatatkan kenaikan sekitar 20% di bursa Chicago Board of Trade karena panen terhambat cuaca panen dan kekeringan di seluruh wilayah pertanan gandum, yang menyebabkan produksinya terhambat dan membuat cadangan gandum global menyusut dan membuat harganya melambung.

Namun, kekatakutan terbesar pasar pada perlambatan pengiriman dari Rusia hingga saat ini belum terwujud, sehingga membantu menurunkan kekhawatiran terkait dengan masalah panen.

Saat ini investor sudah kembali menumpuk taruhan bearish. Dengan Rusia yang masih mendominasi pengiriman global, membuat permintaan ekspor dari negara lain teredam.

Bersamaan dengan itu, diperkirakan gandum dari belahan bumi bagian Utara tidak akan dipanen hingga pertengahan tahun depan, krena memberi waktu agar tanaman mendapat curah hujan supaya kualitas panennya membaik.

Direktur di perusahaan penasihat pertanian CRM AgriCommodities Benjamin Bodart menuturkan bahwa saat ini masih terlalu awal untuk membicarakan soal panen berkualitas buruk pada tahun depan.

Data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) AS menunjukkan hedge fund saat ini sudah melebarkan posisi jangka pendeknya untuk komoditas gandum hingga 55% menjadi 26.105 kontrak berjangka dan opsi pada pekan 23 Oktober.

Outlook tersebut menjadi yang paling negatif sejak awal Mei lalu. Kepemilikan jangka pendek merangkak dalam delapan pekan terakhir, terpanjang sejak 2010.

Pada perdagangan Selasa (30/10) harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami penurunan 2 poin atau 0,39% menjadi US$505,25 sen per bushel dari perdagangan sesi sebelumnya yang sempat menguat ke US$512,50 sen per bushel setelah Mesir membeli 60.000 ton gandum dari AS. Pembelian tersebut merupakan pertama kalinya bagi pasokan dari AS sejak musim 2016 – 2017.

Di wilayah Laut Hitam, meskipun panennya merosot, Rusia masih mengirimkan dan melakukan ekspor dalam laju yang mencapai rekor pada sepanjang musim ini dan mendominasi perdagangan global. Sebelumnya, apda Jumat (26/10), Kementerian Pertanian Rusia mempredksikan ekspor gandum dari Rusia akan berkisar antara 33 juta hingga 34 juta ton, lebih tinggi dari ekspektasi.

Dari penanaman, saat ini sudah hampir rampung untuk panen musim dingin dan petani sudah menanam lebih banyak dari yang diperkirakan, disertai pula dengan tanda akan cuaca yang makin mendukung untuk penanaman dan panen.

Musim hujan dalam beberapa waktu belakangan ini diperkirakan akan membantu menopang panen gandum pada musim depan.

Kemudian, di Eropa, sejumlah panen terhambat oleh kerusakan tanaman akibat kekeringan sepanjang awal tahun ini dan cuaca yang cukup panas ketika petani melakukan penanaman membuat tanaman tidak akan tumbuh maksimal. Unit pengawasan pertanian Uni Eropa memperingatkan bahwa pertanian gandum Eropa kini dalam keadaan darurat dan sangat berisiko.

“Pasar sepertinya terlalu terfokus pada risiko kekeringan itu, padahal hasilnya masih baru akan terihat pada musim semi,” ujar sejumlah analis Rabobank Internasional dalam laporan harian, dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/10).

Dari Amerika Utara, pertanian gandumnya justru mengalami peristiwa yang berbanding terbalik dengan Eropa, yakni curah hujan yang sangat tinggi. Curah hujan yang menimbulkan banjir membuat penanaman gandum musim dingin menjadi terhambat semakin panjang.

Namun, meski terhambat, pasar tetap berfokus pada penurunan permintaan pada ekspor dari Amerika. Pengiriman sejak 1 Juni tercatat anjlok 22% dari jumlah tahun lalu. Sementara itu, agensi pertanian Kanada juga mendorong outlook untuk produksinya.

Selain itu, masih ada spekualsi di pasar bahwa ekspor Rusia akan melambat sehingga membuka kesempatan bagi petani Amerika untuk mengambil pangsa pasar. Bersamaan dengan itu, penurunan harga juga membuat pasokan dari AS semakin kompetitif.

Mesir sebagai pengimpor teratas gandum AS, pada Jumat (26/10) sudah membeli gandum AS pada sesi penawaran untuk pertama kalinya sejak masa panen 2016 – 2017. Karena itu sejak itu harga gandum CBOT sempat naik hingga 4% menembus US$500 sen per bushel.

Di belahan bumi Utara, tanaman gandum tengah mengalami sejumlah ancaman yangbisa membuat harga gandum kembali menjulang. Australia biasanya menjadi wilaah yang mengirimkan gandum terbanyak, tetapi kondisi saat ini terlalu buruk sehingga banyak pembeli yang akhirnya memutuskan untuk impor.

New South Wales, wilayah pertanian gandum terbesar di Timur Australia, sudah mengalami kekeringan sejak Januari hingga Agustus tahun ini, terparah sejak 1965. Pada waktu yang sama, hawa dingin juga membuat sejumlah besar tanaman membeku.

Kerusaan tersebut membuat ekspor dari Argentina diperkirakan akan melampaui ekspor dari Australia untuk pertama kalinya dalam sedekade. Hal itu semakin didukung dengan panen dari negara Latin itu yang mencapai rekor.

“Kondisi pertanian gandum sudah makin membaik dalam beberapa bulan terakhir, tapi masalah cuaca tetap membayangi untuk panen global,” ungkap Kyle Tapley, ahli meteorology pertanian di Radiant Solutions.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, gandum

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top