Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Berada di Fase Konsolidasi

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (30/10/2018) pasar obligasi akan dibuka bervariasi karena pasar obligasi sedang berada di fase konsolidasi.
Emanuel B. Caesario | 30 Oktober 2018 08:48 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (30/10/2018) pasar obligasi akan dibuka bervariasi karena pasar obligasi sedang berada di fase konsolidasi.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa meskipun secara teknikal analisa pasar obligasi diperkirakan akan bergerak menguat, apapun bisa saja terjadi.

"Kehati-hatian merupakan yang terpenting saat ini, dengan berfokus strategi jangka pendek," katanya dalam riset harian, Selasa (30/10/2018).

Nico mengatakan, Presiden Trump kini semakin menjadi jadi. Trump terus meningkatkan tekanan terhadap ketua The Fed, Jerome Powell.
Trump menyampaikan bahwa dia ‘mungkin’ menyesal telah mengangkat Powell dan bersikap reaktif ketika Trump ditanya apakah ia akan memecat ketua The Fed.

Hal ini sedikit banyak akan menimbulkan kecemasan terhadap situasi dan kondisi independensi The Fed itu sendiri.

Beralih dari sana, utang Pemerintah Afrika Selatan akan mencapai puncaknya 2 tahun kemudian, dan berpotensi lebih tinggi dari perkiraaan sebelumnya. Kesenjangan fiskal akan semakin melebar dan penerimaan negara akan terus menurun.

Oleh sebab itu, Menteri Keuangan Tito Mboweni berkemungkinan akan melakukan penawaran obligasi internasional yang diawali dengan pertemuan dengan beberapa investor.

Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik karena akan menjaga sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, yang tentu nantinya akan berimbas ke negara negara emerging market.

"Kami merekomendasikan hold hari ini, dengan potensi kenaikkan," katanya.

Pada perdagangan kemarin, total transaksi dan frekuensi menurun dibandingkan hari sebelumnya di tengah kenaikkan harga obligasi yang terjadi kemarin.  Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi < 1 tahun, diikuti dengan 10 – 15 tahun dan 15 – 20 tahun. Sisanya merata di semua tenor hingga 20 tahun.

Pasar obligasi kemarin mencatatkan kenaikkan harga, tetapi total transaksi dan frekuensi menurun. Para pelaku pasar dan investor cenderung wait and see khususnya terkait dengan pergerakan obligasi yang masih menjadi bias serta penantian data inflasi yang akan keluar pada Kamis.

Di pasar global, imbal hasil obligasi Zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikkan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Mexico (8.69%, +37.5). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Peru (5.79%, -0.0).

Imbal hasil wilayah Zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Jerman (0.37%, +2.5). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Italia (3.33%, -10.7).

Imbal hasil Asia Pasifik di tutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Philipina (7.88%, +17.7) Penurunan imbal hasil terbesar ada di Korea Selatan (2.13%, -8.6).

Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup turun di 8.64% dibandingkan hari sebelumnya di 8.68%.

Minyak Texas di tutup turun di harga US$66.69 per barel dibandingkan hari sebelumnya US$67.04 per barel. Rupiah di tutup melemah di Rp15.223 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di Rp15.216 per dolar AS.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top