Perusahaan Sektor Perdagangan & Jasa Bakal Dominasi IPO Akhir Tahun

Perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi mendominasi pipeline penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tegar Arief | 30 Oktober 2018 21:24 WIB
Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi mendominasi pipeline penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari 21 perusahaan yang masuk ke dalam pipeline IPO, tercatat ada 9 perusahaan yang berasal dari sektor tersebut. Sektor terbanyak kedua adalah properti, real estat, and building construction sebanyak 5 perusahaan.

"Ini waktu yang tepat untuk mencari dana di pasar modal bagi mereka, makanya yang IPO banyak baik dari sektor trade maupun properti," kata Kepala Riset Narada Kapital Kiswoyo Adi Joe saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (30/10/2018).

Sepanjang tahun berjalan, perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di pasar modal mencapai 46 emiten. Angka ini merupakan yang tertinggi, dan berpotensi terus meningkat sejalan dengan banyaknya antrean IPO.

Menurut Kiswoyo, besarnya minat IPO ini membuktikan bahwa pasar modal menjadi pilihan utama bagi perusahaan untuk menghimpun pendanaan, termasuk kelas kecil dan menengah. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya perusahaan yang hanya mengincar Rp20 miliar hingga Rp50 miliar dalam IPO.

"Mereka memutuskan, daripada utang di bank bunga tinggi lebih memilih pakai dana dari masyarakat karena ini tidak menambah beban utang perusahaan juga," sambungnya. Apalagi, kata dia, tren ke depan suku bunga perbankan akan terus tinggi.

Selain itu, pemerintah melalui Ditjen Pajak Kementerian Keuangan juga memberikan keringanan bagi perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh publik. Hal ini akan memicu perusahaan untuk berani melantai di bursa.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menambahkan, banyaknya antrean IPO pada akhir tahun merupakan salah satu dampak dari perhelatan pilpres pada tahun depan.

Efek Pilpres

Menurutnya, hanya ada dua pilihan perusahaan untuk menghimpun dana di pasar modal, yakni direalisasikan akhir tahun atau pada semester kedua tahun depan. Ini terkait dengan adanya kekhawatiran terhadap dampak guncangan politik akibat pemilihan presiden.

"Pilihannya itu, makanya saat ini ramai. Begitu masuk tahun politik kami memprediksi IPO sudah sepi karena pasar masih menunggu kepastian mengenai pemimpin yang terpilih dan antisipasi risiko lain," kata dia.

Tak hanya penggalangan dana di pasar modal, Hans memprediksi minat perusahaan untuk melakukan ekspansi pada momentum pilpres juga cukup minim. Pasalnya, mayoritas pelaku bisnis masih wait and see terkait dengan kepastian pemimpin dan program unggulan pemerintah baru.

"Pasar masih menahan, selain dari internal itu ada juga faktor eksternal yakni kekhawatiran mengenai perang dagang yang diprediksi masih akan berlanjut hingga tahun depan," ujarnya.

Sementara itu, otoritas pasar modal masih cukup optimistis jumlah fundraising akan meningkat kendati sejumlah ancaman mengintai. Diantaranya, tekanan dari eksternal karena kenaikan suku bunga AS dan pelaksanaan agenda politik lima tahunan.

Tahun depan, BEI menargetkan jumlah perusahaan yang melakukan IPO mencapai 35 perusahaan, sama dengan target yang ditetapkan pada tahun ini.

Tag : ipo
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top