Kinerja Positif Emiten Jumbo

Kinerja emiten berkapitalisasi pasar jumbo diprediksi melanjutkan tren positif sampai akhir 2018 seiring dengan kenaikan kredit, peningkatan konsumsi masyarakat, dan memanasnya harga batu bara.
Hafiyyan | 30 Oktober 2018 04:32 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja emiten berkapitalisasi pasar jumbo diprediksi melanjutkan tren positif sampai akhir 2018 seiring dengan kenaikan kredit, peningkatan konsumsi masyarakat, dan memanasnya harga batu bara.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyampaikan, kinerja emiten big caps di sektor perbankan didorong oleh pertumbuhan kredit. Namun demikian, tren peningkatan suku bunga membuat Net Interest Margin (NIM) cenderung menurun, sehingga ke depannya kredit tidak terlalu ekspansif.

“Akan tetapi, bank-bank besar menerapkan strategi memacu pendapatan dari fee based income, dan kian ekspansif di bidang teknologi. Ini dapat menjaga tren peningkatan kinerja mereka,” tuturnya saat dihubungi, Minggu (28/10).

Dengan strategi tersebut, sambung Hans, kinerja big caps perbankan cenderung menguat sampai dengan akhir 2018. Dari sisi saham, dia merekomendasikan investor memerhatikan BMRI dan BBNI.

Adapun, kinerja emiten di sektor konsumsi seperti UNVR dan HMSP terdorong oleh peningkatan daya beli masyarakat. Sebelumnya, emiten sektor konsumsi turut terimbas tekanan perekonomian akibat faktor eksternal.

Kinerja consumer goods berpotensi meningkat pada kuartal IV/2018 seiring dengan momen Natal dan Tahun Baru. Oleh karena itu, saham UNVR diperkirakan cukup menarik.

Hans menambahkan, kinerja UNTR didorong oleh memanasnya harga batu bara, yang diperkirakan berlanjut sampai tahun depan. Pada 2019, permintaan alat berat dari sektor perkebunan diperkirakan mulai menanjak seiring dengan kenaikan harga minyak kelapa sawit atau CPO.

“Tahun depan dampak kebijakan B20 mulai terasa, sehingga adanya limapahan pasokan domestic dapat diserap. Permintaan alat berat di sektor perkebunan pun akan meningkat,” imbuhnya.

Head of research Samuel Sekuritas Indonesia Andy Ferdinand menuturkan, emiten perbankan diperkirakan akan merasakan dampak kenaikan suku bunga, khususnya pada kuartal IV/2018. Hal ini akan tercermin ke dalam peningkatan suku bunga deposito dan suku bunga kreditnya.

Oleh karena itu, NIM perbankan cenderung menurun. Bank yang dapat mengatasi dampak tersebut ialah bank-bank besar, khusunya BUMN yang diuntungkan dengan proyek pemerintah, seperti infrastruktur dan KPR subsidi.

“Tantangan perbankan ialah tren kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah,” ujarnya.

Sampai akhir 2018, dia memprediksi laba BBCA dapat tumbuh 9,9% yoy menjadi Rp25,26 triliun, BBRI naik 14,6% yoy menuju Rp31,87 triliun, BBNI meningkat 12,6% yoy menuju Rp15,1 triliun, dan BMRI naik 20,1% yoy menjadi Rp23,72 triliun.

Andy memberikan rekomendasi beli terhadap saham BMRI dengan target Rp8.200, BBRI Rp3.800, dan BBNI Rp9.050, sedangkan BBCA disarankan hold dengan target Rp26.250. Target harga saham ini berlaku sampai dengan pertengahan 2019.

Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan, saham emiten big caps merupakan penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, kinerjanya menjadi faktor pendorong roda pereknomian.

“Kinerja big caps cenderung suistanable, sehingga cukup oke untuk dikoleksi sahamnya,” imbuhnya.

Dari sisi kinerja, pada kuartal III/2018 emiten konsumsi diuntungkan dengan agenda besar seperti Asian Games dan pertemuan IMF-World Bank, sehingga mengerek permintaan produk sehari-hari. Selanjutnya, emiten juga diuntungkan dengan momentum Natal dan Tahun Baru.

Adapun, emiten perbankan melakukan peningkatan layanan, sehingga kinerjanya cenderung meningkat. Selain itu, dampak tren kenaikan suku bunga tidak lagi signifikan terhadap perusahaan.

Tag : kinerja emiten
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top