Outlook Permintaan Mendung, Harga Minyak Lanjut Tergelincir

Harga minyak mentah dunia kembali memerah karena kekhawatiran akan kemunduran perekonomian global sehingga membuat harga anjlok dan mencatatkan penurunan bulanan terbesar sejak pertengahan 2016.
Mutiara Nabila | 29 Oktober 2018 19:53 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali memerah karena kekhawatiran akan kemunduran perekonomian global sehingga membuat harga anjlok dan mencatatkan penurunan bulanan terbesar sejak pertengahan 2016.

Pada perdagangan Senin (29/10) harga minyak Brent turun 0,36 poin atau 0,46% menjadi US$77,26 per barel. Harga tercatat naik 15,47% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga minyak West Texas Intermediate (WTI)  turun 0,30 poin atau 0,44% menjadi US$67,29 per barel dan tercatat naik 11,34% selama 2018 berjalan.

Meskipun ekspor minyak Iran terkena kendala karena sanksi dari AS mulai efektif berlaku pada akhir pekan ini, harga patokan minyak global itu sudah kehilangan nilainya hampir 7% sepanjang bulan, penurunan terbesar sejak Juli 2016.

Selain itu, komoditas industri lainnya seperti tembaga sudah terguncang dengan adanya penurunan pada ekuitas global karena kekhawatiran pada pendapatan korporasi di AS. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tengah perang dagang dan penguatan dolar AS.

Pakar Strategi di PVM Oil Associates Stephen Brennock menuturkan bahwa seringkali ketika pasar saham terguncang, pasar komoditas ikut terpukul. Pernyataan tersebut tercermin pada kemunduran ekuitas global yang ikut menyeret perdagangan energi.

“Selain itu, adanya kekhawatiran akan kelebihan pasokan. Arab Saudi dan Rusia memimpin dalam upaya memenuhi permintaan agar pasokan di pasar minyak tetap stabil bersamaan dengan outlook permintaan yang makin mendung. Faktor dari Iran akan tetap membawa nada bullish bagi harga minyak,” ungkapnya, dikutip dari Reuters, Senin (29/10/2018).

Data dari bursa Intercontinental Exchnage (ICE) dan Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka (CFTC) AS menunjukkan bahwa kombinasi kepemilikan posisi bullish untuk Brent dan WTI telah anjlok dalam 4 pekan belakangan menjadi hanya 572 juta barel. Posisi itu jauh dari angka 1,2 miliar barel pada Januari 2018.

“Pasar sudah kembali menaruh perhatiannya pada data fundamental, terutama dengan kemungkinan masalah pasokan pada November mengingat adanya sanksi dari AS kepada ekspor minyak Iran pada akhir pekan ini,” papar sejumlah analis di Commerzbank.

Dari segi pasokan, Iran sudah kembali menjual pasokan minyaknya ke sejumlah perusahaan swasta melalui bursa domestiknya untuk pertama kalinya.

Dengan sanksi yang sebentar lagi berlaku, tiga dari lima negara konsumen teratas minyak Iran – China, India, dan Turki – telah menolak panggilan Washington untuk membeli minyak Iran, dan mengatakan bahwa tidak ada pasokan dari negara lain yang mampu menggantikan pasokan dari Iran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top