Pasokan Minyak Global Melimpah, Harga WTI Tertekan

Harga minyak West Texas Intermediate atau WTI kembali memerah setelah sempat ditutup menguat 0,86% pada perdagangan sebelumnya di US$66,95 per barel. Tekanan terjadi setelah Gubernur OPEC mengatakan bahwa pasar minyak akan kelebihan pasokan pada akhir tahun.
Mutiara Nabila | 26 Oktober 2018 14:41 WIB
Harga minyak mentah WTI tertekan pasokan global - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak West Texas Intermediate atau WTI kembali memerah setelah sempat ditutup menguat 0,86% pada perdagangan sebelumnya di US$66,95 per barel. Tekanan terjadi setelah Gubernur OPEC mengatakan bahwa pasar minyak akan kelebihan pasokan pada akhir tahun.

Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) mengatakan bahwa kenaikan harga minyak sebelumnya terpicu isyarat OPEC. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu mengisyaratkan akan kembali memangkas produksinya karena pasokan minyak global yang terus meningkat.

“Isyarat OPEC ini diartikan pasar sebuah langkah yang dapat memperburuk hubungan dengan Presiden AS Donald Trump. Karena semalam ini Trump berulang kali mengecam OPEC dan menuduh dengan sengaja membiarkan harga minyak tetap tinggi,” ujar Deddy, dilansir Bisnis dalam situs resminya, Jumat (26/10/2018).

Sementara itu, harga minyak yang kembali turun masih disebabkan cadangan minyak dari AS yang membeludak. Arab Saudi juga mengatakan akan menambah produksi sebanyak-banyaknya hingga 1 juta – 2 juta barel per hari.

“Keputusan itu rencananya dilakukan OPEC untuk menjaga ketersediaan pasokan minyak di pasar global kalau sanksi dari Amerika Serikat ke Iran mulai efektif pada November mendatang,” tutur Deddy kepada Bisnis.

Deddy memproyeksikan harga minyak WTI hingga akhir tahun bisa bergulir di kisaran US$65 – US$75 per barel. Adapun outlook permintaan yang turun karena potensi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi melambat. Hal itu diprediksi bisa menimbulkan potensi tambahan bagi penurunan harga minyak.

“Ada potensi harga turun lagi, tapi secara teknikal bila level US$65 per barel masih mampu menahan aksi jual, harga minyak akan terus berkonsolidasi di level US$65 – US$76 per barel hingga akhir tahun,” lanjutnya.

Selain itu, untuk jangka pendek, Deddy memproyeksikan harga minyak WTI akan bergerak di kisaran US$65 – US$72 per barel karena masih menuju sanksi AS ke Iran.

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra dalam laporan resminya mengatakan bahwa pernyataan  pejabat OPEC tentang kemungkinan pasar mengalami oversupply di kuartal IV/2018 memberikan tekanan bagi harga minyak.

Putu memproyeksikan support harga minyak WTI terdekat akan berada di possi US$66,40 per barel. Jika posisi tersebut ditembus, harga minyak WTI bisa melanjutkan penurunan ke US$66 – US$65 per barel. Sementara itu, resistan terdekatnya berada di kisaran US$67,00 per barel.

“Jika ditembus, minyak WTI kemungkinan naik ke US$67,50 per barel. Namun, selama masih tertahan di bawah US$67,50, minyak mentah berpotensi kembali melemah,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
opec, harga minyak mentah wti

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top