Prediksi Oversupply Tambah Tekanan Pada Harga Minyak

Harga minyak kembali melanjutkan pelemahan menuju penurunan selama tiga pekan berturut-turut, yang tertekan oleh pernyataan Gubernur OPEC tentang pasar kemungkinan akan mengalami oversupply pada akhir tahun, serta ekuitas global yang masih merosot membayangi outlook permintaan.
Mutiara Nabila | 26 Oktober 2018 13:19 WIB
Kilang minyak - web

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kembali melanjutkan pelemahan menuju penurunan selama tiga pekan berturut-turut, yang tertekan oleh pernyataan Gubernur OPEC tentang pasar kemungkinan akan mengalami oversupply pada akhir tahun, serta ekuitas global yang masih merosot membayangi outlook permintaan.

Pada perdagangan Jumat (26/10) harga minyak Brent turun 0,46 poin atau 0,60% menjadi US$76,43 per barel dan dalam jalurnya mengalami penurunan mingguan hingga 4%.

Adapun, harga minya West Texas Intermediate (WTI) juga tergelincir 0,53 poin atau 0,79% menjadi US$66,80 per barel dan nyaris turun harga hingga 3,5% dalam sepekan terakhir.

Salah satu analis Fitch Solutions Raphael Mok menuturkan bahwa sentimen bearish harga minyak akan mendesak harga Brent untuk menguji level support di US$70 per barel.

Gubernur Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) Adeeb Al-Aama mengatakan pada Kamis (25/10) bahwa pasar minyak akan mengalami oversupply pada kurtal IV/2018.

“Pada kuartal akhir tahun ini pasar minyak bisa bergeser menjadi kelebihan pasokan setelah muncul bukti kenaikan cadangan minyak selama beberapa pekan terakhir,” paparnya, dilansir dari Reuters, Jumat (26/10).

Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih juga mengatakan bahwa perlu ada intervensi untuk mengurangi cadangan minyak setelah jumlahnya mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir.

Pada pekan lalu, Energy Information Adminitration (EIA) melaporkan cadangan minyak AS naik pada pekan lalu dalam lima pekan beruntun, sedangkan cadangan bensin dan minyak sulingannya turun.

Pelemahan di pasar saham juga membawa kekacauan bagi harga minyak pada pekan ini, dengan Wall Street mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 2011.

“Turunnya harga minyak mendekati US$10 per barel pada minyak barel menjadi cerminan dari aksi jual besar-besaran pada ekuitas global dan memperluas sentimen penghindaran risiko di pasar,” lanjut Raphael.

Pasar finansial sudah mendapat pukulan keras dari sejumlah faktor, termasuk perang dagang antara AS dan China, pelemahan mata uang di negara berkembang, kenaikan biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi, serta kekhawatiran perekonoman di Italia.

Kemudian, ada pula tanda akan perlambatan perdagangan global, dengan jumlah pengiriman dan lalu lintas pengiriman yang menurun setelah sempat melonjak sepanjang 2018.

Meskipun demikian, Raphael memprediksi, dari segi fundamental harga minyak bisa tetap bullish menuju pemberlakuab sanksi dari AS ke ekspor minyak Iran pada 4 Novermber mendatang.

Pihak Washinton mendesak sejumlah pemerintah negara lain di seluruh dunia untuk berhenti mengimpor minyakd ari Iran termasuk dari konsumen terbesar minyak Iran, China. Iran harus menyimpan minyaknya yang belum terjual dengan harapan bisa segera dijual ketika sanksi itu diangkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top