Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Seharusnya Menguat

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi pada perdagangan pagi ini, Jumat (26/10/2018) akan dibuka menguat dengan pergerakan yang terbatas.
Emanuel B. Caesario | 26 Oktober 2018 09:23 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA - Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi pada perdagangan pagi ini, Jumat (26/10/2018) akan dibuka menguat dengan pergerakan yang terbatas. 

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa sentimen yang cukup mendominasi hari ini adalah datang dari Bank Sentral Eropa. 

Lembaga yang berbasis di Frankfurt ini mengatakan akan tetap melakukan pembelian obligasi hingga per bulan Desember dengan total senilai 15 miliar euro atau ( US$17 miliar ). 

Pembuat kebijakan mengatakan bahwa suku bunga akan tetap di rekor terendah saat ini, setidaknya hingga musim panas tahun depan. Bank Sentral Eropa menilai bahwa resiko terhadap prospek pertumbuhan masih sama seperti bulan lalu.

Meningkatnya proteksionisme, rentannya Negara Negara berkembang, dan tingginya volatilitas di pasar keuangan masih menjadi issue yang berpengaruh.
Meskipun masih ada beberapa resiko, tetapi Draghi terlihat optimis tentang pertumbuhan upah dan prospek inflasi selama konfrensi pers berlangsung. 

"Secara keseluruhan masih konsisten dan sesuai dengan skenario baseline kami. Kami merekomendasikan hold hari ini, cermati pergerakan pasar obligasi," katanya dalam riset harian, Jumat (26/10/2018).

Nico mengatakan, secara teknikal pasar obligasi masih akan bergerak di area penguatan, tetapi apapun bisa saja terjadi. Pergerakan pasar obligasi yang melebihi dari 45 bps akan menjadi arah obligasi selanjutnya.

Adapun, pada perdagangan kemarin, total transaksi dan frekuensi obligasi turun dibandingkan hari sebelumnya di tengah bervariasinya pergerakan obligasi dalam sepekan. 

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 10 – 15 tahun, diikuti dengan 15 – 20 tahun dan 7 – 10 tahun. Sisanya merata disemua tenor hingga 20 tahun. 

Nico mengatakan, apabila menilik dari total transaksi, pasar terlihat seperti menahan transaksi sehingga pergerakan pasar obligasi menjadi fluktuatif. Dalam sepekan ini, arah pergerakan obligasi tidak jelas karena naik dan turun setiap berselang 1 hari yang didukung juga oleh minimnya sentimen.

Di pasar global, imbal hasil obligasi Zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Brazil (10.51%, +9.0). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Peru (5.78%, -0.0). 

Imbal hasil wilayah Zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Cyprus (2.36%, +0.9). Penurunan imbal hasil terbesar ada di Italia (3.48%, -11.2). 

Imbal hasil Asia Pasifik di tutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan imbal hasil terbesar ada di Indonesia (8.54%, +5.5) Penurunan imbal hasil terbesar ada di Philipina (7.71%, -23.8). 

Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup naik di 8.62% dibandingkan hari sebelumnya di 8.58%. Minyak Texas di tutup turun di harga 67.33 dibandingkan hari sebelumnya 66.82. Rupiah di tutup menguat di 15.188 dibandingkan hari sebelumnya di 15.197.

Tag : Obligasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top