Cadangan Pasokan AS Naik, Pelemahan Harga Minyak Berlanjut

Harga minyak melanjutkan pelemahan ke level terendah dalam 2 bulan karena penurunan pada saham di Amerika Serikat yang memicu investor untuk mengalihkan aset berisiko dan munculnya laporan kenaikan cadangan minyak mentah di Amerika.
Mutiara Nabila | 25 Oktober 2018 18:04 WIB
Ilustrasi harga minyak mentah turun - Antara

Bisnis.com, JAKARTA –Harga minyak melanjutkan pelemahan ke level terendah dalam 2 bulan karena penurunan pada saham di Amerika Serikat yang memicu investor untuk mengalihkan aset berisiko dan munculnya laporan kenaikan cadangan minyak mentah di Amerika. 

Harga minyak di New York pada Kamis (25/10) anjlok hingga 1,1% setelah sempat naik 0,6% pada Rabu (24/10). Level ekuitas di Asia pada saat ini menyentuh pasar bearish setelah saham AS menghapus kenaikannya sepanjang tahun pada Rabu (24/10).

Analis komoditas di Rakuten Inc. Satoru Yoshida mengatakan bahwa aksi jual besar-besaran di pasar ekuitas telah meningkatkan kekhawatiran terkait dengan penurunan perminataan. Selanjutnya, kondisi itu berpengaruh bagi penurunan harga.

“Selain itu, kenaikan cadangan minyak di AS juga menambah sentimen bearish bagi harga minyak,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg, Kamis (25/10/2018).

Dampak kemunduran pada pasar saham global melebar ke perdagangan aset berisiko seperti minyak dan tembaga. Sementara itu, aset lindung nilai seperti emas justru menguat.

Energy Information Administration (EIA) AS melaporkan bahwa cadangan minyak mentah AS terkerek melebihi ekspektasi selama 5 pekan beruntun. Hal itu membuat harga minyak mengalami penurunan terbanyak sejak Juli 2016.

Saat ini investor juga sedang mengawasi dengan ketat jumlah penurunan pasokan minyak dari Iran yang dihapuskan dari pasar karena terkena sanksi dari AS. Kemudian, apakah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya mampu mengisi kesenjangan pasokan.

Pada perdagangan Kamis (25/10), harga minyak WTI mencatatkan penurunan 0,52 poin atau 0,78% menjadi US$66,30 per barel dan mencatatkan kenaikan harga sebesar 14,48% secara year-to-date (ytd). Pada perdagangan hari sebelumnya, harga minyak WTI sempat naik menyentuh US$66,82 per barel.

Sedangkan untuk minyak Brent, harganya mengalami penurunan 0,52 poin atau 0,68% menjadi US$75,65 per barel. Sepanjang 2018 berjalan, harganya naik 13,13%. Premium harga minyak Brent dengan WTI menjadi US$9,83 per barel.

Di pasar ekuitas, Indeks MSCI Asia Pasifik anjlok 2,2% pada Kamis (25/10) dan tergelincir lebih dari 20% dari titik puncaknya pada Januari. Kedua indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average melorot karena gejolak pendapatan perusahaan dan kekhawatiran akan perlambatan perekonomian global.

Di AS, laporan EIA menyebutkan bahwa cadangan minyak Negeri Paman Sam naik 6,35 juta barel pada pekan lalu dan menjadi yang terpanjang sejak Maret 2017. Jumlah tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata kenaikan 3,7 juta barel yang diprediksi oleh sejumlah analis.

Adapun, cadangan bensin AS turun hingga 4,83 juta barel dan cadangan minyak sulingnya turun selama 5 pekan beruntun. Pengilangan yang dioperasikan oleh AS masih tetap dalam jumlah yang cukup rendah karena sedang dalam musim perbaikan.

Kabar terkait lainnya, Pangeran Kerajaan Arab Saudi menyebutkan bahwa dirinya akan mengadili pembunuh kritikus pemerintah dan jurnalis Jamal Khashoggi dan akan mencegah pelanggaran permanen dengan Turki.

Selain itu, Libya juga diperkirakan memompa minyak mentah sebanyak mungkin hingga akhir tahun. 

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top