Bursa Global Terus Tertekan, Saat Tepat Masuk Pasar Modal?

Menurut beberapa investor yang berani melangkah melawan arus, aksi jual yang terjadi di pasar keuangan sekarang ini juga menawarkan kesempatan.
Dwi Nicken Tari | 25 Oktober 2018 13:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Menurut beberapa investor yang berani melangkah melawan arus, aksi jual yang terjadi di pasar keuangan sekarang ini juga menawarkan kesempatan.

Beberapa di antaranya adalah Scott Minerd dari Guggenheim Partners yang menyampaikan bahwa saat ini merupakan waktu yang baik untuk berbelanja di pasar saham. 

“Saat saya melihat ke layar dan melihat semuanya merah, yang saya lihat adalah semua saham dalam sale. Ini waktu yang baik untuk mungkin berbelanja,” kata Minerd, Chairman of Investment and Global Chief Investment Officer di Guggenheim Partners, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (25/10/2018).

Senada, Eric Lonergan di M&G Investment menilai bahwa saham perbankan Italia nantinya bakal melonjak lebih dari 50% hingga tahun depan. Sementara Luiz Sauerbronn dari Investment Partners menyampaikan pasar ekuitas Inggris telah terpukul terlalu keras akibat kekhawatiran dampak Brexit.

Adapun bulan terburuk untuk aset global dalam enam tahun terakhir ini telah semakin parah dan indiskriminatif karena kekhawatiran menyebar, mulai dari pertumbuhan pendapatan perusahaan di tengah-tengah kondisi pengetatan finansial, kekhawatiran perang dagang, hingga krisis utang di Italia.

Adapun setelah bertahun-tahun tertekan akibat pertumbuhan yang mendorong pasar bullish ke rekor barunya, value investor (yaitu investor yang mengikuti strategi Benjamin Graham untuk mengambil saham murah lewat analisis fundamental) telah merugi karena tumbangnya saham raksasa teknologi belakangan ini.

“Sulit untuk melangkah berlawanan, terlebih lagi ketika cara value tidak lagi berdampak untuk waktu yang lama,” kata Sauerbronn yang masih sabar memiliki saham perusahaan grosir, perusahaan minyak, dan perusahaan farmasi Inggris. Menurutnya, value share telah mengalahkan pandangan pasar dalam guncangan baru-baru ini yang lupa dengan bingkai waktu jangka panjang.

Dia menjelaskan, saham jangka panjang yang terdaftar di London saat ini diperdagangkan dengan murah dan investor diberikan lebih banyak kesempatan di Inggris.

“Fokus utama sekarang sepenuhnya di Brexit, tapi sebenarnya ada kesempatan besar jika kita berorientasi jangka panjang dan sabar,” imbuhnya.

Adapun Lonergan dari M&G menilai akan ada imbal hasil besar dari Italia. Dia memperkirakan saham perbankan Italia dapat melonjak antara 40%—70% dalam 12 bulan ke depan jika kesepakatan tercapai mengenai pengurangan anggaran Pemerintah Italia.

“Jika ada stabilitas fiskal atau Italia berhasil mendapatkan kesepakatan dengan UE, kita akan melihat reli yang agresif untuk asetnya,” ujar Lonergan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia, bursa as

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top