Arab Saudi Siap Genjot Produksi, Harga Minyak Langsung Melorot 5%

Harga minyak mentah susut 5% setelah Arab Saudi berjanji akan memenuhi kesenjangan dan penyusutan pasokan serta sentimen untuk menghindar dari risiko yang berkembang di seputar pasar global.
Mutiara Nabila | 24 Oktober 2018 18:10 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah susut 5% setelah Arab Saudi berjanji akan memenuhi kesenjangan dan penyusutan pasokan serta sentimen untuk menghindar dari risiko yang berkembang di seputar pasar global.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid Alfalih mengatakan bahwa negara anggota Organisasi Negara-negera Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan masuk ke mode ‘produksi sebanyak-banyaknya’ untuk memenuhi permintaan dan mengganti penyusutan dari Iran karena terkena sanksi dari Amerika Serikat.

Selain itu, di AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa kenaikan pasokan sebanyak 9,88 juta barel pada pekan lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari 2017 jika data tersebut dikonfirmasi oleh Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (24/10) malam waktu AS.

“Kenaikan jumlah cadangan minyak AS sepertinya karena ekspor yang terus menurun ditambah dengan musim perbaikan di sejumlah kilang,” ujar James Williams, Presiden perusahaan riset energi WTRG Economics, dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/10/2018).

Williams menambahkan, laporan bahwa Arab Saudi ternyata masih mampu untuk meningkatkan produksi semakin membuat harga minyak bergerak negatif.

Saham minyak juga tertahan pada Selasa (24/10) karena melebarnya aksi jual ekuitas. Indeks Eksplorasi Minyak dan Gas S&P 500 anjlok hingga 4,9%. Angka tersebut sudah mencatatkan penurunan hampir 12% sepanjang Oktober, menuju catatan kinerja terburuk sejak Desember 2015.

“Sejumlah alasan adanya pelemahan pada harga minyak mentah di antaranya adanya penghindaran risiko di seluruh pasar finansial,” kata Bob Yawger, Direktur Perdagangan Berjangka di Mizuho Securities AS.

Menurut Yawger, saat ini mulai banyak yang menghindar dari investasi di komoditas dan ekuitas dan kemudian menaruh uangnya di aset safe haven.

Pada perdagangan Selasa (24/10), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan dengan harga US$66,51 per barel, naik 0,08 poin atau 0,12% dari sesi perdagangan sebelumnya. Namun, harga tersebut masih mencatatkan kemerosotan di bawah rata-rata pergerakan selama 200 hari untuk pertama kalinya dalam tahun ini.

Kemudian, harga minyak Brent mencatatkan kenaikan 0,20 poin atau 0,26% menjadi US$76,64 per barel. Pada awal sesi dibuka, harganya sempat anjlok ke bawah rata-rata pergerakan harga selama 50 hari untuk pertama kalinya sejak Agustus lalu. Premium Brent kini mencapai US$10,13 per barel terhadap WTI.

Laporan API juga menyebutkan bahwa untuk pasokan bensin dan minyak sulingan keduanya mengalami penurunan hingga 2 juta barel pada pekan lalu, dengan cadangan minyak mentah di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma mengalami kenaikan.

Cadangan minyak mentah AS diperkirakan akan mengalami kenakan hingga 3,7 juta barel pada pekan lalu. Sementara itu, cadangan di Cushing diperkirakan naik 1,5 juta barel pada pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top