Harga Kakao di Kendari Naik 1 Persen Jadi Rp26.000

Harga biji kakao di tingkat petani di Kendari dipatok Rp26.000 per kilogram atau naik Rp250 (sekitar 1%) dibandingkan dengan harga periode September 2018 yang mencapai Rp25.750 per kilogram.
Newswire | 24 Oktober 2018 14:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga biji kakao di tingkat petani di Kendari dipatok Rp26.000 per kilogram atau naik Rp250 (sekitar 1%) dibandingkan dengan harga periode September 2018 yang mencapai Rp25.750 per kilogram.

Harga kakao di Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut bisa menjadi patokan harga kakao nasional, karean Sultra menjadi sentra budi daya kakao di Indonesia.

Data Dinas Perkebunan Sultra menyebutkan kenaikan harga juga terjadi di level pedagang pengumpul dan pedagang antarpulau.

Seperti dilaporkan Antara, data  Dinas Perkebunan Provinsi Sultra, Rabu (24/10/2018), menyebutkan harga kakao nonfermentasi, misalnya, di tingkat petani produsen mencapai Rp26.000 atau sedikit naik dibanding dengan bulan lalu yang berada pada kisaran Rp25.750 per kilogram dengan fermentasi plus minus tujuh persen.

Begitu pula dengan harga kakao pada tingkat pedagang pengumpul juga mencapai Rp27.000 per kilogram atau naik dibanding sebelumnya yang hanya Rp26.850 per kilogram dan di pedagang antarpulau mencapai Rp29.000 per kilogram, sedikit menurun dibanding dengan bulan lalu yang mencapai Rp29.500 hingga Rp30.000 per kilogram.

Adnan Jaya, Petugas Pelayanan Informasi Pasar Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, mengatakan, bervariasinya harga kakao itu sudah menjadi ketentuan pasar, di samping tempat atau waktu di mana produk kakao itu dibeli.

"Jadi naik atau turunnya harga setiap komoditas itu juga tergantung dari kondisi cuaca, artinya bila musim panas seperti ini, maka harganya tentu akan lebih baik, bila kondisi hujan maka memengaruhi kadar air sehingga harga juga turun," ujarnya kepada Antara, Rabu (24/10/2018).

Dia menambahkan, kondisi musim kemarau selama lebih satu bulan terakhir ini, tidak hanya memengaruh harga kakao, namun terjadi pada komoditas perkebunan lain seperti, cengkih, pala, kemiri dan lada yang cenderung alami kenaikan yang signifikan.

Lada putih misalnya, harganya juga bervariasi yakni pada tingkat petani masih dengan harga Rp40.000 hingga Rp42.500 per kilogram, namun pada tingkat pengecer ditemui dengan harga Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram atau naik rata-rata Rp5.000 per kilogram dibanding dengan bulan lalu.

Adnan menambahkan, bahwa informasi harga untuk beberapa jenis komoditas perkebunan itu tercatat pada minggu ketiga Oktober 2018 dan diperkirakan akan bertahan hingga akhir bulan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kakao

Sumber : Antara
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top