Dolar AS Perkasa, Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp15.197

Nilai tukar rupiah menambah pelemahannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (24/10/2018), saat indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak lebih stabil dan menguat.
Renat Sofie Andriani | 24 Oktober 2018 18:56 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (24/10/2018), saat indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak lebih stabil dan menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 5 poin atau 0,03% di level Rp15.197 per dolar AS, setelah berakhir terdepresiasi 5 poin di posisi 15.192 pada perdagangan Selasa (23/10).

Padahal, mata uang Garuda sempat menguat ke level 15.180 setelah rebound dengan dibuka terapresiasi 4 poin atau 0,03% di level Rp15.188 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif di level Rp15.180 – Rp15.198 per dolar AS.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas juga terdepresiasi petang ini, dipimpin yen Jepang yang melemah 0,16% pada pukul 18.09 WIB, disusul yuan offshore China dan baht Thailand yang masing-masing terdepresiasi 0,15%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,378 poin atau 0,39% ke level 96,339 pada pukul 17.59 WIB.

Indeks dolar sempat melanjutkan koreksinya saat dibuka turun 0,047 poin di level 95,914 pagi tadi, setelah pada perdagangan Selasa (23/10) berakhir terkoreksi 0,052 poin di posisi 95,961.

Dilansir Bloomberg, yen melemah setelah bursa saham China mulai pulih dari pelemahannya sehingga mengurangi minat investor untuk aset-aset safe haven.

Indeks Shanghai Composite China hari ini rebound dan berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,33% atau 8,47 poin di level 2.603,29. Padahal, pada perdagangan Selasa (23/10), indeks Shanghai anjlok lebih dari 2% sekaligus mendorong aksi jual terhadap aset berisiko di kawasan Asia.

“Yen Jepang melemah di tengah sentimen untuk aset berisiko yang lebih baik secara marginal,” ujar Rodrigo Catril, pakar strategi valas di National Australia Bank Ltd., dikutip dari Bloomberg.

Tetap saja, ia mengingatkan, sentimen secara keseluruhan pada pasar masih terlihat berhati-hati.

Ekspektasi untuk tatap muka antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi bulan depan menurun saat pejabat pemerintah dari kedua negara justru semakin pesimistis atas prospek untuk resolusi perang perdagangan mereka.

Dalam risetnya hari ini, Bank Central Asia (BCA) memaparkan bahwa sejumlah faktor eksternal di antaranya kenaikan suku bunga Federal Reserve AS, perang dagang AS-China, dan kenaikan harga minyak masih akan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Keputusan untuk menahan suku bunga acuan harus dilihat hanya sebagai jeda,” jelas BCA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps -50 bps sebelum akhir tahun.

Langkah pengetatan lebih lanjut, tambahnya, diperlukan untuk meredakan tekanan pada defisit transaksi berjalan yang diperkirakan akan mencapai sekitar 2,8%-3% dari PDB pada 2018.

Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,75%. BI mempertahankan suku bunga acuannya setelah melakukan penaikan suku bunga acuan sebanyak lima kali sejak pertengahan Mei.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top