Rupiah Koreksi Tipis, Investor Menimbang Keputusan BI & Pantau Ekonomi Global

Nilai tukar rupiah tetap belum bergairah karena investor masih mempertimbangkan keputusan Bank Indonesia terkait dengan suku bunga acuan.
Mutiara Nabila | 24 Oktober 2018 00:28 WIB
Karyawan menghitung uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA –  Nilai tukar rupiah tetap belum bergairah karena investor masih mempertimbangkan keputusan Bank Indonesia terkait dengan suku bunga acuan.

Rupiah merupakan salah satu mata uang yang berkinerja paling buruk di Asia sepanjang tahun berjalan. Dari aspek teknikal, investor akan memantau perilaku pergerakan pada kisaran Rp15.200-an per dolar AS.

Analis Riset FXTM Lukman Otunuga mengatakan bahwa investor masih mempertimbangkan keputusan dari rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) pada Selasa (23/10).

“BI sudah meningkatkan suku bunga sebanyak lima kali sejak bulan Mei dan diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Dengan menjadi mata uang berkinerja terburuk sepanjang tahun, siklus pengetatan BI mungkin belum berakhir,” ujarnya dalam laporan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (23/10/2018).

Perkembangan situasi dagang antara AS dan China juga kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menuduh Beijing tidak melakukan apa pun untuk meredakan ketegangan menjelang rapat negara anggota G20 (Group of 20) di Argentina bulan depan.

“Perkembangan situasi ini bukan hanya mengurangi optimisme bahwa Amerika Serikat dan China akan menemukan jalan tengah, namun juga meningkatkan potensi bahwa AS tahun depan akan menambah tarif terhadap $200 miliar impor China dari 10% menjadi 25%,” lanjut Lukman.

Selain itu, masalah anggaran Italia dengan Uni Eropa memasuki fase kritis pada Senin (22/10), karena Roma akan menghadapi tenggat waktu untuk memberikan penjelasan mengenai mengapa Italia melanggar ketentuan fiskal Uni Eropa.

Anggaran 2019 Pemerintah Italia mungkin ditolak oleh Uni Eropa di hari Selasa sehingga euro berpotensi untuk terkena dampak negatif. Ketidakpastian di Italia masih menjadi salah satu faktor geopolitik terbesar yang mengganggu sentimen global dan merusak keyakinan investor.

Kemudian, perhatian investor juga masih tertuju pada rapat bank sentral Eropa (ECB) pada pekan ini yang diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan moneter. 

“Walaupun diprediksi tidak ada perubahan suku bunga, investor tidak boleh terlalu cepat menganggap rapat ini tidak berpengaruh apa-apa. Mengingat ketidakpastian seputar situasi politik di Italia, konferensi pers Mario Draghi akan menyedot perhatian ekstra,” tambahnya.

Secara teknikal, euro kembali berada di atas US$1,1520 per euro karena dolar AS yang melemah. Kenaikan intraday dapat mengantar mata uang itu menguat lebih tinggi lagi menuju US$1,1580 per euro untuk jangka pendek.

Selanjutnya, risiko peristiwa utama di Amerika Serikat pekan ini adalah adanya rilis pertama data produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2018 yang dijadwalkan rilis pada Jumat (26/10) ini. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan meningkat 3,3% pada kuartal III/2018, lebih lambat dibandingkan 4,2% pada kuartal II/2018.

“Kejutan positif mengenai pertumbuhan PDB berpotensi meningkatkan sentimen beli terhadap dolar AS dan mendukung ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga AS.”

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top