BI Tahan Suku Bunga Acuan, Rupiah Lolos dari Level Rp15.200

Nilai tukar rupiah berhasil mengikis pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (23/10/2018), menyusul keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Renat Sofie Andriani | 23 Oktober 2018 18:55 WIB
Pelanggan keluar dari gerai penukaran uang asing di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil mengikis pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (23/10/2018), menyusul keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03% di level Rp15.192 per dolar AS, setelah hanya berakhir stagnan di posisi 15.187 pada perdagangan Senin (22/10).

Padahal, mata uang Garuda sempat melemah menyentuh level 15.213 setelah dibuka dengan pelemahan 10 poin atau 0,07% di level Rp15.197 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif pada level Rp15.190 – Rp15.213 per dolar AS.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,75%, suku bunga Deposit Facility pada 5,00%, dan suku bunga Lending Facility pada 6,50%.

Dilansir Bloomberg, BI mempertahankan suku bunga acuannya sekaligus memilih untuk menyimpan sebagian dari amunisi kebijakannya setelah langkah penaikan suku bunga sebanyak lima kali sejak Mei membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.

Akumulasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak pertengahan Mei berikut langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membatasi impor mulai menunjukkan hasil, dengan investor memompa US$3,7 miliar ke dalam obligasi pemerintah pada kuartal ketiga dibandingkan dengan arus keluar senilai hampir US$4 miliar pada tiga bulan sebelumnya.

Ini membantu menjaga nilai tukar rupiah cukup stabil sejak 5 Oktober serta membatasi penurunannya untuk tahun ini menjadi sekitar 11% terhadap dolar AS di tengah gejolak pasar global yang dipicu oleh kenaikan suku bunga AS.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas juga terdepresiasi petang ini. Won Korea Selatan membukukan pelemahan terdalam sebesar 0,77%, disusul dolar Taiwan dan baht Thailand yang masing-masing melemah 0,24% dan 0,19%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau berbalik turun tipis 0,066 poin atau 0,07% ke level 95,947 pada pukul 17.53 WIB.

Indeks dolar sempat melanjutkan penguatannya saat dibuka naik tipis 0,02% atau 0,016 poin di level 96,029 pagi tadi, setelah pada perdagangan Senin (22/10) berakhir menguat 0,31% atau 0,300 poin di posisi 96,013.

Won memimpin pelemahan pada mayoritas mata uang Asia saat kemerosotan pada bursa saham China menyeret turun pasar saham di kawasan ini.

Meskipun pemerintah China melancarkan sejumlah dukungannya untuk sektor swasta serta menggalang kepercayaan investor, bursa saham China kembali tersungkur setelah membukukan penguatan hampir 7% selama dua sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya.

“Ada ketidakpastian seputar apakah langkah-langkah di China baru-baru ini akan cukup untuk membendung penurunan pada pasar ekuitas domestik,” jelas Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ , Singapura, seperti dikutip Bloomberg.

Sebaliknya, yen Jepang dan yuan onshore China masing-masing mampu menguat 0,42% dan 0,16% pada pukul 18.03 WIB. Kondisi penghindaran aset berisiko memang menguntungkan yen yang bersifat sebagai mata uang safe haven.

Adapun mata uang yuan onshore menguat setelah bank sentral China People's Bank of China (PBOC) meluncurkan langkah lebih lanjut untuk mendukung perusahaan-perusahaan swasta.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, suku bunga acuan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top