MNC Sekuritas: Pasar SUN Dibatasi Hasil Lelang dan RDG BI

MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (23/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN akan cenderung bergerak terbatas jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan oleh pemerintah.
Emanuel B. Caesario | 23 Oktober 2018 09:49 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA - MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa (23/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN akan cenderung bergerak terbatas jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan oleh pemerintah. 

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa selain itu, pelaku pasar akan menantikan hasil dari rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, di mana pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. 

Pergerakan harga Surat Utang Negara akan dipengaruhi oleh hasil pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara.

"Dengan pergerakan harga Surat Utang Negara yang masih akan cenderung terbatas maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder," katanya dalam riset harian, Selasa (23/10/2018).

Beberapa seri Surat Berharga Negara yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini adalah sebagai berikut : ORI013, ORI014, SR008, SR009, FR0069, FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0070, FR0077, FR0056, FR0042, FR0054 dan FR0058. 

Review Perdagangan Kemarin

Jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Senin, 22 Oktober 2018 bergerak terbatas dengan arah perubahan yang bervariasi.

Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 - 8 bps di mana arah perubahan yang terjadi cukup bervariasi baik di tenor pendek maupun panjang. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 3 bps di tengah minimnya perubahan harga yang terjadi yaitu berkisar antara 3 - 5 bps. 

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami perubahan hingga sebesar 8 bps yang didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 35 bps. 

Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang cenderung bergerak dengan mengalami penurrunan dengan perubahan yang terjadi berkisar antara 1 - 8 bps yang didorong oleh adanya perubahan harga yang berkisar antara 5 bps hingga 65 bps. 

Terbatasnya perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin juga berpengaruh terhadap pergerakan tingkat imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan, dimana pada keseluruhan seri acuan, tingkat perubahan yang terjadi kurang dari 1 bps kecuali untuk tenor 10 tahun yang mengalami penurunan sebesar 10 bps di level 8,596%. 

Adapun untuk seri acuan yang lain, tingkat imbal hasilnya berada pada level 8,430%; 8,799% dan 8,999% secara berturut - turut untuk tenor 5 tahun, 15 tahun dan 20 tahun.

Terbatasnya perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh faktor pelaku pasar yang cenderung menahan diri melakukan transaksi jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan pada hari ini serta pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diadakan pada hari Senin dan Selasa, 22 - 23 Oktober 2018. 

Aktivitas investor yang menahan diri untuk melakukan transaksi tercermin pada volume perdagangan yang tidak begitu besar, yaitu senilai Rp4,5 triliun.

Pada awal perdagangan, imbal hasil Surat Utang Negara cenderung mengalami kenaikan, di tengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang dibuka melemah pada awal sesi perdagangan di level 15200,00 per Dollar Amerika. 

Adapun jelang berakhirnya sesi perdagangan, imbal hasil bebrapa seri Surat Utang Negara terlihat mengalami penurunan yang didukung oleh meredanya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). 

Pada perdagangan kemarin, pemerintah melakukan penerbitan Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara seri Project Based Sukuk seri PBS020 dengan cara Private Placement senilai Rp1,00 triliun dengan tingkat imbal hasil sebesar 9,28%.

Seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika pada perdagangan kemarin juga terlihat mengalami kenaikan. 

Kenaikan imbal hasil tersebut diapati pada keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan kenaikan imbal hasil yang cukup besar didapati pada tenor menengah dan panjang. 

Imbal hasil dari INDO23 dan INDO28 mengalami kenaikan sebesar 3 bps masing - masing di level 4,322% dan 4,789% setelah mengalami adanya penurunan harga berturut - turut sebesar 10 bps dan 20 bps. 

Adapun imbal hasil dari INDO42 mengalami kenaikan sebesar 4 bps di level 5,466% setelah mengalami adanya penurunan harga sebesar 55 bps.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan senilai Rp4,50 triliun dari 38 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp1,38 triliun. 

Obligasi Negara seri FR0063 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,09 triliun dari 11 kali transaksi di harga rata - rata 89,58% yang diikuti oleh perdagangan seri FR0072 senilai Rp416,04 miliar dari 61 kali transaksi di harga rata - rata 93,87%. 

Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS013 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp258,16 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 99,62% yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Negara Ritel seri SR010 senilai Rp54,32 miliar dari 17 kali transaksi di harga rata - rata 95,83%.

Adapun dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp963,54 miliar dari 33 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. 

Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Tahap IV Tahun 2018 Seri A (FIFA03ACN4) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp263,0 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap II Tahun 2017 Seri B (BBRI02BCN2) senilai Rp110,0 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 99,74%.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup pada level 15187,00 per Dollar Amerika setelah bergerak cukup berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 15182,00 hingga 15200,00 per Dollar Amerika. Level penutupan pada perdagangan kemarin tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya, setelah pada awal perdagangan dibuka melemah di level 15200 per Dollar Amerika. 

Sementara itu, nilai tukar mata uang regional pada perdagangan kemarin ditutup bervariasi dengan kecenderungan mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika. 

Mata uang Baht Thailand (THB) memimpin pelemahan mata uang regional dengan pelemahan sebesar 0,50% yang diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,27% dan Peso Philippina (PHP) sebesar 0,19%. Adapun mata uang regional yang mengalami penguatan diantaranya adalah Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,32% dan Dollar Taiwan (TWD) sebesar 0,18%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin terlihat bergerak dengan arah yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap pasar saham global yang cenderung mengalami penurunan. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan terbatas di level 3,194% dan 3,384%. 

Adapun imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dan Inggris (Gilt) ditutup dengan mengalami penurunan, masing - masing di level 0,446% dan 1,521%. Sementara itu imbal hasil surat utang Jepang dan Thailand mengalami kenaikan imbal hasil masing - masing di level 0,149% dan 2,874%.

Adapun secara teknikal, pergerakan harga Surat Utang Negara bergerak pada area konsolidasi sehingga pergerakan harga dalam jangka pendek masih akan bergerak bervariasi dengan tingkat perubahan yang akan cenderung terbatas.

Tag : Obligasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top