OPINI : Trik Manfaatkan Flash Sale untuk Koleksi Saham Profitable

Adanya Flash Sale sebenarnya merupakan kesempatan kulakan saham di harga bawah. Namun pertanyaannya adalah apakah betul sekarang saat yang tepat? Berapa potensi keuntungan? Kapan saat tepat menjualnya? Dan berbagai pertanyaan lainnya.
Parto Kawito, Direktur PT Infovesta Utama | 23 Oktober 2018 13:25 WIB
Saham penggerak IHSG 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Meminjam istilah Flash Sale alias obral di industri e-commerce yang jamak terdapat pada hampir semua platform penjualan daring, kira-kira itulah yang juga sedang menjadi tren di pasar modal kita, baik saham maupun obligasi saat ini.

Bedanya Flash Sale e-commerce mempunyai masa penawaran terbatas, tetapi di pasar modal waktunya tidak diketahui kapan berakhirnya. Hingga 17 Oktober 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah turun 1,2 % month to date (mtd) dan -7,7 % year to date (ytd), sedangkan Indeks LQ-45 ambles 1,8% mtd dan -13.9% ytd

Adanya Flash Sale sebenarnya merupakan kesempatan kulakan saham di harga bawah. Namun pertanyaannya adalah apakah betul sekarang saat yang tepat? Berapa potensi keuntungan? Kapan saat tepat menjualnya? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Penulis mencoba melihat salah satu aspek dari sekian banyak pertimbangan yang perlu untuk menjawab pertanyaan di atas dengan mengamati pergerakan return harga saham penghuni LQ45 secara bulanan selama periode 20 tahun terakhir dan mencoba melihat tren siklus naik turunnya (jika ada).

Representasi harga saham menggunakan indeks LQ-45 alih-alih IHSG dengan pertimbangan portofolio Manajer Investasi pengelola reksa dana lebih mirip LQ-45 dan saham–sahamnya relatif lebih likuid daripada IHSG.

Khusus return Oktober 2018 dihitung hingga 17 Oktober 2018 dan data untuk Novemebr 2018 dan Desember 2018 belum ada sehingga jumlah data return bulanannya hanya 19 buah data saja.

Kesempatan di Oktober

Dari data historis tercatat rata-rata return periode Oktober (-0,04% month-on-month/MoM) merupakan bulan dimana return-nya kedua terjelek setelah Agustus (-2,69% MoM). Selain itu return max yang terjadi di Oktober tercatat 14,64% MoM dan terjelek -34,62% MoM, ini disebabkan anjloknya saham di Oktober 2008 (-34,62% MoM).

Jadi penurunan bulan ini -1,8% sepertinya masih belum apa-apa dibandingkan dengan puncak penurunan historisnya tapi bulan ini jelas sudah melampaui rata-rata penurunan historisnya yang hanya -0.04% MoM.

Bisa diartikan sebenarnya penurunannya sudah relatif dalam sehingga penulis merekomendasikan investor untuk membeli saham di bulan ini.

Probabilitas return positif di Oktober adalah 0.60 atau selama 12 tahun mengalami return positif dari 20 tahun pengamatan. Masih sedikit lebih baik daripada probabilitas melempar koin sehingga masih ada kemungkinan hingga akhir Oktober ini Indeks LQ45 bisa positif.

Selain itu, satu hal yang menarik terjadi di Oktober adalah range (kisaran) maksimal ke minimum terbesar tercatat di bulan ini, bahkan mengalahkan Agustus yang return bulanannya terjelek. Artinya pasar saham paling volatile ada di bulan ini. Lagi-lagi hal ini karena dipengaruhi kejadian pada 2008 akibat krisis di Amerika Serikat.

Bila kita keluarkan data anomali pada 2008 saat pasar regional crash maka kisaran Oktober menjadi urutan ketiga paling volatile setelah April dan September.

Setelah Oktober ternyata data historis mengatakan terjadi ‘November ceria’ dengan rata-rata return 1,04% MoM tetapi dengan probabilitas return positif hanya 0.47 atau sembilan tahun positif dari 19 tahun pengamatan.

Probabilitas return positif yang kecil ini mengisyaratkan agar investor tidak buru-buru menjual sahamnya di November apalagi return yang diharapkan juga belum tentu menutupi kerugian bila investor masuk tidak di posisi terendah di Oktober. Untuk investor yang belum masuk di bulan Oktober masih diberi kesempatan investasi di November.

Adapun Desember menjadi bulan terbaik secara historis dengan return 4.98% MoM dan probabilitas return positif 95% alias hanya satu tahun dari 19 tahun terakhir di Desember mengalami return negatif yang terjadi pada tahun 2000.

Bila saja penulis mengamati data 15 tahun terakhir maka tidak ditemui return negatif tersebut. Artinya dalam 17 tahun terakhir return-nya selalu positif! Satu-satunya return negatif di Desember tahun 2000 ‘hanya’ -5.66% MoM sehingga angka ini bisa dijadikan dasar cut-loss poin bila investor mengharapkan window dressing dan ternyata pasar saham mengalami penurunan di akhir tahun.

Penulis sering ditanya bagaimana jika pasar turun? Dalam hal ini perlu disadari bahwa segala tindakan juga mengandung risiko, termasuk investasi. Kalau kita ingin profit, risiko selalu menyertai. Bahkan kita pergi kerja pun termasuk mengambil risiko selama berada di perjalanan dan seterusnya.

Namun risikonya kita pahami dan kelola, salah satunya berdasarkan pengamatan data historis dan diversifikasi ke berbagai saham dengan investasi menyerupai indeks LQ45 yang sudah diseleksi Bursa Efek Indonesia. Apalagi dalam 17 tahun terakhir tidak pernah turun sekalipun di Desember, masa masih belum berani?

Apabila turun, silakan ditahan dulu dan sampai angka tertentu, misalkanya -5,66% seperti yang terjadi pada tahun 2000, portofolio bisa di cut-loss.

Lagi pula saat ini valuasi saham seperti tercermin dari rasio Price Earning Ratio (PER) lagging LQ45 tercatat 15.9 x atau jauh dibawah 1 (satu) standar deviasi untuk periode pengamatan lima tahun terakhir. Sedangkan return tertinggi di Desember adalah 17,02% MoM dan rata-rata return bulanan Desember mencapai 4,98% MoM.

Dengan demikian return yang diharapkan jika investor berinvestasi di akhir Oktober dan jual di akhir Desember rata-rata sekitar 6% selama dua bulan.

Ambil Momentun

Setelah Desember, rata-rata return bulan selanjutnya positif hingga Juli. Pada Januari +1,40%, selanjutnya Februari +0,64%, Maret +1,51% dan April +3,87%. Selanjutnya Juni +1,67% dan Juli +1,55%. Pada Agustus umumnya turun tajam dengan rata-rata -2,69% sehingga lebih bijak lepas di Juli bagi yang mau timing the market.

Terakhir, September +0,17% dengan probabilitas positif hanya 0.55 juga bukan bulan baik melepas saham atau membeli saham. Namun mengingat faktor global yang terjadi tahun depan sulit diprediksi seiring dengan faktor perang dagang yang berpotensi mulai dirasakan hingga ke Indonesia secara tidak langsung.

Selain itu ada potensi kabar buruk dari Italia dan proses Brexit. Bagi investor yang berorientasi jangka pendek bisa mempertimbangkan berinvestasi di Oktober ini dan mengharapkan terjadi window dressing lagi di Desember atau investor meneruskan hingga Januari karena menanti January Effect yang mempunyai probabilitas terjadi 0.65. Kemudian melihat lagi kondisi makroekonomi untuk menentukan apakah bijaksana melepas sahamnya di akhir Januari tahun depan.

Sedangkan bagi investor jangka menengah bisa memegang portofolionya hingga akhir Juli 2019 dengan target return sekitar 19,2% yang dihitung secara compounding tetapi belum memasukkan deviden.

Perlu diingatkan sekali lagi bahwa pengamatan menggunakan indeks LQ45 sehingga hasilnya bisa saja berbeda jika portfolio investor berbeda isinya dengan LQ45 dan tentu saja data historis belum tentu berulang di masa datang. HAPPY INVESTING.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (23/10/2014)

Tag : rekomendasi saham
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top