Perbaikan Harga Komoditas Jagung & Kedelai Tertahan Pasokan  

Perdagangan komoditas jagung dan kedelai di bursa berjangka bakal terpengaruh oleh menumpuknya pasokan setelah panen di Amerika Serikat melimpah kembali pascahujan. Harga jagung turun selama 5 sesi berturut-turutedangkan kedelai terkerek tipis.
Mutiara Nabila | 22 Oktober 2018 20:13 WIB
Jagung dimasukkan ke truk saat silo kosong di sebuah peternakan di Tiskilwa, Illinois, AS, 6 Juli 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Perdagangan komoditas jagung dan kedelai di bursa berjangka bakal terpengaruh oleh menumpuknya pasokan setelah panen di Amerika Serikat melimpah kembali pascahujan. Harga jagung turun selama 5 sesi berturut-turutedangkan kedelai terkerek tipis.

Pada perdagangan Senin (22/10), harga jagung di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,5 poin atau 0,14% menjadi US$366,50 sen per bushel. Namun, sepanjang tahun berjalan, harga komoditas pertanian itu tumbuh 4,49%.

Ekonom pertanian di National Australia Bank Phin Ziebell mengatakan bahwa pasar jagung pada saat ini terkena tekanan baru yaitu menumpuknya pasokan. Sementara itu, harga kedelai sebagai komoditas pendamping juga bakal tertahan oleh kenaikan laju panen.

“China sudah tidak lagi membeli komoditas biji-bijian dari AS yang sebenarnya sangat penting bagi pasar sehingga harga komoditas itu kemungkinan akan tetap tertekan kecuali ada masalah cuaca di Brasil untuk panen tahun depan,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Senin (22/10/2018).

Laporan mingguan Departemen Pertanian AS (USDA) pun menyatakan bahwa ekspor jagung dan kedelai diperkirakan berada di bawah ekspektasi pasar. Spekulan juga telah memangkas posisi kontrak jangka pendek untuk komoditas jagung CBOT sejak pekan lalu.

USDA menyebutkan bahwa sejumlah pengekspor juga menunda penjualan 180.000 ton kedelai AS ke China sebagai pembeli terbesar komoditas tersebut. Pasalnya, kedua negara itu masih berada dalam konflik perang dagang.         

Selain itu, laporan mingguan oleh Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) AS menunjukkan bahwa pedagang nonkomersil seperti kontrak investasi kolektif sudah memangkas posisi jangka pendek untuk komoditas kedelai di CBOT.

Perdagangan kedelai kembali menghijau setelah melemah pada 2 sesi sebelumnya. Harga komoditas itu terkerek tipis 0,75 poin atau 0,09% menjadi US$857,50 sen per bushel pada perdagangan kemarin. Posisi itu mencatatkan penurunan 9,90% (ytd).

Sebelumnya, konflik perang dagang AS dan China dinilai telah memacu pergeseran industri pertanian Paman Sam. Pasalnya, petani kedelai sebagai komoditas yang terkena dampak tarif dagang mulai beralih ke tanaman lain.

Wakil CEO perusahaan konsultan Brock Associates Tim Brusnahan mengatakan, petani di AS diperkirakan menanam lebih banyak jagung pada tahun depan karena China sebagai pengimpor utama komoditas biji-bijian AS, mulai berhenti membeli kedelai saat petani memiliki panen melimpah.

“Tahun depan, kemungkinan akan ada penurunan produksi kedelai dan akan ada lebih banyak jagung karena kami akan melakukan pergeseran besar pada penanaman komoditas.”

Sementara itu, dari sisi produksi di luar AS, penanaman kedelai oleh petani Brasil untuk masa panen 2018—2019 dilaporkan meningkat 34% dari keseluruhan area tanam.

Konsutan komoditas pertanian di Brasil, AgRural Commodities, menyebutkan bahwa keseluruhan penanaman kedelai di Negeri Samba mengalami pertumbuhan 14% dibandingkan dengan penanaman pada periode tanam sebelumnya, tanpa menyertakan data terperinci.

Tag : komoditas, komoditas perkebunan
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top