Harga Nikel Global Bayangi Penguatan Saham INCO

Harga saham PT Vale Indonesia Tbk yang menguat pada awal pekan ini sebesar 20 poin atau 0,63% ke level Rp3.210 dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp3.190 belum memperlihatkan pergerakan yang stabil menyusul masih adanya risiko penurunan harga komoditas nikel di pasar global.
Dyah Ayu Kartika | 22 Oktober 2018 19:46 WIB
Aktifitas penambangan nikel milik PT Vale Indonesia, Tbk terlihat di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA—Harga saham PT Vale Indonesia Tbk yang menguat pada awal pekan ini sebesar 20 poin atau 0,63% ke level  Rp3.210 dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp3.190 belum memperlihatkan pergerakan yang stabil menyusul masih adanya risiko penurunan harga komoditas nikel di pasar global.

Penguatan harga saham INCO hari ini juga didukung oleh indeks pertambangan yang ditutup tumbuh 0,44% ke level Rp1.918 dari hari sebelumnya sebesar Rp1.909, secara year-to-date indeks pertambangan tumbuh 20,35%. Sepanjang 2018, harga emiten berkode INCO ini menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11,07% (ytd).

Sampai dengan September 2018, perusahaan mengumumkan produksi  nikel dalam matte sebesar 54.227 metrik ton. Secara terperinci pada kuartal I/2018 INCO memproduksi  nikel  sebanyak 17.141 metrik ton, kemudian pada kuartal II/2018 dan kuartal III/2018 masing-masing memproduksi nikel sebesar 18.893 metrik ton dan 18.193 metrik ton.

Pada kuartal III/2018, perusahaan memproduksi nikel di bawah rencana akibat imbas dari aktivitas pemeliharaan yang tidak diduga. Langkah tersebut diambil  untuk mengatasi masalah operasional yang teridentifikasi dan memastikan keselamatan operasional perusahaan. Semestinya, aktivitas pemeliharaan itu dilakukan pada kuartal IV/2018.

Selain itu, produksi nikel INCO sampai dengan September 2018 lebih rendah 6% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun2017 yang disebabkan tingkat kandungan nikel rata-rata yang lebih rendah. Oleh karena itu, INCO merevisi target produksi nikel tahun 2018 dari 77.000 metrik ton menjadi 75.000 metrik ton.

Secara umum kinerja keuangan INCO sangat dipengaruhi harga komoditas yang di luar kendali perusahaan. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) menunjukkan tren menurun sepanjang 2018. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu (19/10) harga nikel terkoreksi  4,13% (ytd) ke level US$12.398 per ton.

Meskipun demikian, pendapatan INCO di semester I/2018 masih tercatat tumbuh positif 28,34% menjadi US$374,61 juta jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 sebesar US$291,89 juta. Sementara itu, laba bersih perusahaan juga meroket 236,82% menjadi US$29,39 juta dari periode yang sama tahun 2017 merugi sebesar US$21,48 juta.

Secara teknikal, Indikator Relative Strength Index (RSI) saham INCO di level 39,96 masih berada di area netral namun mendekati area oversold. Dari sisi indikator MACD, pergerakan harga saham INCO masih dalam momentum negatif meskipun hari ini ditutup menguat.

Sumber: Bloomberg

*) Dyah Ayu Kartika, analis Bisnis Indonesia Resources Center

Tag : IHSG, vale indonesia tbk
Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top