Harga Saham ISSP Masih Berisiko Dalam Tekanan

Tren harga saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk masih berada dalam tekanan yang juga tampak pada penutupan perdagangan sesi I hari ini yang menunjukkan harga di level yang sama yaitu di Rp92 dibandingkan akhir pekan.
Dyah Ayu Kartika | 22 Oktober 2018 13:34 WIB
Pipa baja - bisnis

Bisnis.com, JAKARTA—Tren harga saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk masih berada dalam tekanan yang juga tampak pada penutupan perdagangan sesi I hari ini yang menunjukkan harga di level yang sama yaitu di Rp92 dibandingkan akhir pekan.

Secara year-to-date harga saham perusahaan yang listing pada 2013 ini, juga mencatatkan tren menurun dengan pertumbuhan negatif 20%. Adapun indeks sektor industri dasar dan kimia menunjukkan tren positif sepanjang 2018 dengan pertumbuhan 9,83% (ytd) ke level Rp756,97 pada perdagangan sesi I.

Emiten dengan kode saham ISSP itu tengah mengurangi ketergantungan bahan baku impor untuk menekan dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah. Total kebutuhan impor bahan baku ISSP yang semula 69%  dipangkas menjadi 60%. Selain itu, upaya menggenjot ekspor juga dilakukan sehingga imbas penguatan dolar AS tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja  perusahaan.

ISSP telah mengurangi porsi impor menjadi 178 ton hingga September 2018 dari periode yang sama tahun 2017 sebesar 198 ton. Kemudian untuk belanja bahan baku lokal ditambah menjadi sekitar 122 ton atau senilai Rp1,09 triliun per September 2018 atau naik 28,42% (yoy) secara kuantitas dan secara nilai belanja tumbuh 32,62% (yoy).

Setelah ISSP mengantongi sertifikat Underwriters Laboratories (UL) dari Amerika Serikat, perusahaan berencana meningkatkan kontribusi penjualan ekspor. Dengan adanya UL, perusahaan optimistis ekspor akan meningkat ekspor terutama untuk produk fire system  atau sistem pemadam kebakaran.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, penjualan ekspor ISSP sebesar Rp101,8 miliar atau melonjak 98,04% dari periode yang sama tahun 2017. Untuk penjualan dalam negeri tercatat tumbuh 29,90% (yoy) menjadi Rp1,98 triliun sehingga total penjualan sepanjang semester I/2018 mencapai Rp2,08 triliun atau tumbuh 32,11% (yoy). Akan tetapi, peningkatan penjualan tersebut belum mendorong laba bersih ISSP yang pada semester I/2018 justru turun 47,60% menjadi Rp13,08 miliar dari periode yang sama tahun 2017.

Secara teknikal, harga saham ISSP berada di bawah MA 200 dan masih berisiko dalam tekanan, sedangkan dari sisi Indikator Relative Strength Index (RSI), saham ISSP cenderung mendekati area overbought dengan angka 65,24.

Sumber: Bloomberg

*) Dyah Ayu Kartika, analis Bisnis Indonesia Resources Center

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top