MI Genjot Peluncuran Reksa Dana Terproteksi Akhir Tahun

Manajer investasi ramai-ramai meluncurkan produk reksa dana terproteksi pada akhir tahun ini.
Tegar Arief | 21 Oktober 2018 13:05 WIB
Edukasi dalam investasi reksa dana - www.sam.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Manajer investasi ramai-ramai meluncurkan produk reksa dana terproteksi pada akhir tahun ini.

Dari data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pendaftaran produk reksa dana baru didominasi oleh reksa dana jenis ini.

Terhitung mulai awal kuartal IV/2018 hingga 19 Oktober lalu, pendaftaran reksa dana terproteksi mencapai 23 produk.

Adapun total pendaftaran reksa dana lainnya seperti reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, reksa dana indeks dan exchange-traded fund (ETF), serta produk alternatif hanya 14 produk.

Penerbitan reksa dana terproteksi disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya adalah karena adanya permintaan nasabah, atau sekedar strategi perusahaan untuk meningkatkan dana kelolaan alias asset under management (AUM) pada penghujung tahun.

PT MNC Asset Management, misalnya, yang meluncurkan reksa dana terproteksi bukan karena adanya permintaan dari investor, melainkan karena strategi perseroan untuk menggenjot laju penjualan.

"Tidak ada pesanan nasabah. Reksa dana terproteksi dibuat untuk dijual lewat selling agent," kata Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Kata dia, masing-masing perusahaan memiliki strategi yang berbeda untuk meluncurkan produk pada penghujung tahun. Selain karena strategi internal, manajer investasi biasanya juga mempertimbangkan kondisi market.

"Yang utama adalah  tergantung rencana dan target perusahaan atas produk apa yg ingin di terbitkan sesuai pasar."

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto berpendapat, peluncuran produk pada akhir tahun disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, masalah ketersediaan dari underlying asset dan kedua tergantung dari permintaan pasar secara umum maupun nasabah.

"Untuk reksa dana di akhir tahun biasanya sifatnya memang tidak dadakan, atau sudah direncanakan jauh-jauh hari. Kecuali memang ada permintaan khusus dari nasabah untuk menerbitkan produk tertentu," jelasnya.

Sementara itu, terkait banyaknya produk reksa dana terproteksi yang didaftarkan menurutnya disebabkan oleh dua hal yakni adanya obligasi yang terbit sehingga ditawarkan ke nasabah atau memang ada permintaan khusus dari nasabah korporasi.

Biasanya, jika ada obligasi yang diterbitkan maka manajer investasi membungkus produk tersebut dengan reksa dana terproteksi untuk kemudian ditawarkan kepada nasabah.

"Dua hal itu kalau untuk reksa dana terproteksi kenapa banyak yang diluncurkan."

Menurutnya, produk yang telah didaftarkan oleh manajer investasi pada kuartal IV/2018 ini belum tentu akan dirilis dalam waktu dekat. Sebab, proses penerbitan produk paling cepat membutuhkan waktu sekitar 30-40 hari kerja.

Alasan berbeda disampaikan oleh Head of Investment Division PT BNI Asset Management Susanto Chandra. Menurutnya, selama ini pada akhir tahun perseroan banyak meluncurkan reksa dana terproteksi ke pasar.

Dengan kata lain, sudah menjadi rutinitas jika peluncuran produk jenis ini digenjot pada akhir tahun, meskipun sebenarnya penetrasi pasar dengan reksa dana terproteksi tetap dilakukan oleh BNI Asset Managemenet sepanjang tahun.

"Kalau akhir tahun tren selama ini kami memang sering meluncurkan reksa dana terproteksi. Itu di internal kami, kalau di manajer investasi lain kami kurang memantau," ujarnya.

Reksa dana terproteksi memang menjadi produk dengan jumlah terbanyak dan dana kelolaan tertinggi di industri reksa dana nasional. Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per akhir September lalu total reksa dana terproteksi memiliki 896 produk dengan nilai aktiva bersih (NAB) mencapai Rp139,2 triliun.

 

 

Tag : investasi, reksa dana
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top