Kenaikan Harga Minyak Tekan Antusiasme Pasar

Kenaikan Harga Minyak Tekan Antusiasme Pasar
Mutiara Nabila | 20 Oktober 2018 18:56 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Antusiasme pasar terhadap minyak sedang dalam posisi terburuknya dalam setahun karena ketakutan akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan kenaikan cadangan minyak Amerika Serikat yang menahan outlook permintaan.

Hedge fund memangkas taruhan kenaikan harga pada minyak West Texas Intermediate (WTI) dalam enam pekan berturut-turut ke titik terendah sejak Oktober 2017. Total taruhan, jangka panjang dan pendek, mendekati titik terendah selama dua pekan.

Sebelum rebound tipis pada perdagangan Jumat (20/10/2018), harga minyak AS itu terhitung per pekan anjlok lebih dari 10% dalam dua pekan.

Kepala riset pasat Tradition Energy Gene McGillian mengatakan, ada kekhawatiran di dalam pasar terkait dengan pertumbuhan permintaan dan adanya sejumlah barel tambahan yang dalam perjalanan menuju pasar untuk mengatasi penyusutan minyak dari Iran pada November mendatang.

“Hal itu membuat sejumlah penaruh posisi jangka panjang untuk mengunci keuntungannya,” ujarnya, dilansir dari Bloomberg, Sabtu (20/10/2018).

Harga minyak tergelincir ke posisi terendah dalam sebulan terakhir karena cadangan minyak AS yang membeludak sehingga membayangi tensi antara AS dan Arab Saudi terkait dengan kehilangan jurnalis sekaligus kritikus Negeri Raja Minyak Jamal Khashoggi.

Sementara itu, perang dagang antara AS dan China serta kekacauan finansial di dalam perekonomian negara berkembang semakin memperkeruh outlook permintaan pada masa mendatang.

“Luar biasa melihat betapa cepatnya perubahan yang terjadi. Menurut saya, pergerakan harga naik hingga US$70-an jadi tidak dianggap,” kata Phil Streible, ahli strategi pasar di RJO Futures.

Streible menambahkan bahwa saat ini banyak spekulasi terkait dengan adanya sanksi dari AS kepada Iran, penurunan pasokan dari Venezuela, Libya, dan belum adanya kepastian tentang negara mana yang mampu mengatasi penyusutan itu.

Data Komisi Perdagangan Berjangka (CFTC) AS menunjukkan, posisi jangka panjang di hedge fund – perbedaan antara taruhan kenaikan dan penurunan harga – anjlok 14% menjadi 242.855 kontrak berjangka dan opsi pada pekan 16 Oktober. Sementara itu posisi jangka pendek melpnjak 38% ke titik tertinggi sejak November 2017.

“Sentimen bullish berpotensi akan kembali lagi, ketika dampak dari sanksi Iran dimulai pada bulan depan. Penurunan harga belakangan ini sepertinya hanya akan terjadi dalam jangka pendek,” ungkap John Kilduff, anggota Again Capital.

Menurut Kilduff, pasar harus lebih mengkhawatirkan tentang penurunan pasokan dari Iran yang akan datang. Keseluruhan pasokan minyak global kemungkinan akan kehilangan sekitar 1 juta barel, dari 1 juta barel itu, setengahnya sudah mulai hilang sepanjang tahun ini.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada penutupan perdagangan Jumat (19/10) naik 0,47 poin atau 0,68% menjadi US$69,12 per barel. Adapun, harga minyak Brent mencatatkan kenaikan 0,49 poin atau 0,62% menjadi US$79,78 per barel.

Tag : Harga Minyak
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top