FOMC Minutes Dorong Dolar AS, Rupiah Ikut Melemah Bersama Mayoritas Kurs Asia

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 45 poin atau 0,30% di level Rp15.195 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.150– Rp15.188 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 18 Oktober 2018 17:36 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup terdepresiasi pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (18/10/2018) setelah dolar AS menguat menyusul pandangan hawkish The Fed terhadap kenaikan suku bunga.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 45 poin atau 0,30% di level Rp15.195 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.150– Rp15.188 per dolar AS.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka di zona merah dengan pelemahan 38 poin atau 0,25% di level Rp15.188 per dolar AS, setelah pada perdagangan Rabu (17/10/2018) ditutup menguat 0,34% ke level Rp15.150 per dolar AS.

Rupiah melemah di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga tertekan, dipimpin oleh won Korea Selatan yang melemah 0,73% dan dolar Taiwan yang terdepresiasi 0,32% Adapun yen Jepang menguat paling tajam sebesar 0,12%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau berbalik melemah 0,076 poin atau 0,08% ke level 95,499 pada pukul 16.59 WIB, setelah sempat menguat hingga level 95,775.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan penguatan 0,091 poin atau 0,10% di level 95,666, setelah berakhir menguat 0,55% atau 0,527 poin di posisi 95,575 pada perdagangan Rabu (17/10).

Dilansir Reuters, dolar naik ke level tertinggi satu pekan menyusul tanda-tanda bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga hingga 2019.

Risalah pertemuan Federal Reserve pada 25-26 September yang dirilis Rabu menunjukkan seluruh anggota pembuat kebijakan The Fed mendukung kenaikan suku bunga bulan lalu dan juga pada umumnya setuju peningkatan lebih lanjut.

Risalah tersebut memperkuat harapan bahwa imbal hasil AS akan meningkat lebih lanjut meskipun adanya pandangan dari Presiden AS Donald Trump bahwa the Fed terlalu ketat.

"Korporasi telah melakukan dengan sangat baik tetapi jelas kita akan memasuki pengetatan moneter di AS dan itu membuat orang khawatir tentang utang global telah naik begitu banyak dalam beberapa tahun terakhir," kata Peter Lowman, CIO di Investment Quorum, seperti dikutip Reuters.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top