Bursa Asia Seret IHSG ke Zona Merah

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,40% atau 23,38 poin di level 5.845,24, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,32% atau 18,50 poin di level 5.850,12.
Aprianto Cahyo Nugroho | 18 Oktober 2018 17:07 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah perdagangan hari ini, Kamis (18/10/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,40% atau 23,38 poin di level 5.845,24, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,32% atau 18,50 poin di level 5.850,12.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.811,92 – 5.858,79. Pada perdagangan Rabu (17/10/2018), IHSG mampu melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua dengan berakhir menguat 1,17% di posisi 5.868,62.

Lima dari sembilan sektor menetap di zona merah, dengan tekanan terbesar oleh sektor infrastruktur yang melemah 2,52%, disusul sektor tambang dengan pelemahan 0,90%.

Sementara itu, tiga sektor lainnya menguat, dipimpin sektor pertanian yang naik 3,58%, sedangkan sektor aneka industri berakhir stagnan.

Dari 610 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 187 saham di antaranya menguat, sedangkan 195 saham melemah, dan 228 saham stagnan.

Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) yang melemah 3,59% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG, diikuti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 1,77%.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,84% atau 4,322 poin di level 510,85, setelah dibuka melemah 0,54% atau 2,77 poin di posisi 512,41.

IHSG melemah di saat indeks saham di Asia Tenggara mayoritas melemah sore ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI menguat 0,15%, indeks SE Thailand turun 0,69%, dan indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 0,05%. Adapun indeks PSEi Filipina menguat 0,59%.

Dilansir Bloomberg, bursa saham di Asia turun setelah imbal hasil obligasi AS kembali naik ke level tertingginya dalam tujuh tahun pascarilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve (FOMC minutes) pada September.

Sementara itu, mata uang yuan China mencapai titik terlemahnya sejak awal tahun lalu. Yuan melemah terhadap dolar AS setelah Departemen Keuangan AS menahan diri untuk melabeli China sebagai manipulator mata uang, sementara pada saat yang sama meningkatkan pengawasan terhadap kebijakan nilai tukar Tiongkok.

Aksi penghindaran risiko di seluruh pasar menyoroti kerapuhan kepercayaan investor hanya beberapa hari setelah pekan terburuk sejak Maret untuk pasar saham global.

Meski laporan keuangan yang solid telah memacu rebound pada awal pekan ini, momentum tersebut memudar pada perdagangan Rabu (17/10/2018) di bursa Amerika Serikat (AS).

 “Kami terus berpikir bahwa AS fokus pada manipulasi mata uang sebagai praktik perdagangan yang tidak adil dan akan berurusan dengan kekhawatiran mata uang China dalam konteks pembicaraan perdagangan yang lebih luas,” ujar ekonom pasar global Citigroup Cesar Rojas dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

 

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

TLKM

-3,59

BBCA

-1,77

HMSP

-0,78

BMRI

-1,14

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

MAYA

+12,10

CPIN

+3,38

GGRM

+1,86

BBRI

+0,65

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top