Mirae Asset Sekuritas: SUN Berpotensi Terdongkrak Sentimen Harga Minyak

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi dengan kecenderungan meningkat dibandingkan dengan perdagangan kemarin.
Emanuel B. Caesario | 12 Oktober 2018 10:28 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA - Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Jumat (12/10/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi dengan kecenderungan meningkat dibandingkan dengan perdagangan kemarin.  

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa sentimen positif didorong oleh turunnya harga minyak mentah dunia dan melambatnya inflasi AS (YoY).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023):  89,90 (8,31%) -  90,30  (8,20%)
FR0064 (15 Mei 2028):  84,00 (8,61%) -  84,65  (8,50%)
FR0065 (15 Mei 2033):  82,75 (8,74%) -  83,40  (8,65%)
FR0075 (15 Mei 2038):  86,50 (8,97%) -  87,50  (8,85%).

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan bergerak pada kisaran Rp15.175 – Rp15.238 dengan kecenderungan menguat. 

"Kami masih menyarankan investor untuk melakukan aksi hold hingga buy gradually untuk seri-seri yang cenderung likuid seperti FR0063, FR0064, FR0065, FR0075, FR0077, dan FR0078. Hal tersebut, didasarkan pada proyeksi kenaikan harga hari ini yang berlanjut hingga Senin pekan depan," katanya dalam riset harian, Jumat (12/10/2018).

Dhian mengatakan, sentimen positif bagi perdagangan Senin pekan depan diperkirakan berasal dari rilis data sentimen konsumen AS (rilis nanti malam) dan data neraca perdagangan Indonesia per September 2018 (rilis Senin depan). 

Berdasarkan analisis sederhana, data sentimen konsumen AS merupakan lagging indicator dari data pertumbuhan penjualan ritel AS (YoY) di mana per Agustus 2018 menunjukkan perlambatan sehingga data sentimen konsumen AS per September 2018 berpotensi untuk turun. 

Sementara itu, secara historis data neraca dagang Indonesia September memiliki siklus cenderung membaik dibandingkan dengan Agustus sehingga level September tahun ini berpotensi mencatatkan level yang lebih baik (defisit menurun atau surplus) dibandingkan dengan Agustus 2018. 

Sejauh ini, konsensus bloomberg memprediksi adanya defisit neraca dagang sebesar -$387 juta atau lebih rendah dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar -$1.021 juta.

Pada perdagangan kemarin, pergerakan SUN kehilangan momentum kenaikan harga. Pada perdagangan terakhir, harga SUN di pasar sekunder secara umum mengalami penurunan dibandingkan dengan hari sebelumnya. 

Rata-rata penurunan harga SUN untuk kategori tenor pendek mencapai 33,03 bps sementara untuk kategori tenor menengah dan panjang masing-masing sebesar 97,50 bps dan 132,64 bps. 

Dengan demikian, yield SUN secara umum mengalami kenaikan di mana yield acuan 10 tahun naik ke level 8,62% dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 6,50% atau level tertinggi sejak kuartal awal tahun 2016. 

Penurunan harga SUN yang terjadi pada perdagangan terakhir bisa dikatakan kehilangan momentum penguatan harga di tengah penurunan yield US Treasury dan indeks dolar AS.  

Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah sebesar 0,23% ke level Rp15.235 setelah bergerak volatile di kisaran Rp15.200 – Rp15.268. 

Padahal, jika melihat beberapa mata uang global untuk peers Indonesia seperti Rupee dan Baht mengalami apresiasi terhadap dolar AS.  

Selain itu, turunnya yield US Treasury pada perdagangan sebelumnya juga tidak mampu diikuti oleh yield Indonesia padahal beberapa peers Indonesia seperti India dan Thailand mengalami penurunan yield (yield 10 tahun India turun ke level 7,98% (sebelumnya 8,03%) dan yield 10 Thailand turun ke level 2,85% (sebelumnya 2,86%).  

Turunnya harga SUN kemarin juga mendorong penurunan nominal maupun frekuensi transaksi obligasi pemerintah dibandingkan dengan hari sebelumnya. 

Sementara itu, katalis positif global bagi pasar obligasi Indonesia berlanjut. Pada perdagangan global semalam, yield US Treasury 10 tahun turun tipis ke level 3,15% dibandingkan dengan hari sebelumnya di level 3,16%.  

Hal tersebut didorong oleh rilis data inflasi AS yang menurun ke level 2,3% (YoY) per September 2018 dibandingkan dengan inflasi tahunan Agustus 2018 sebesar 2,7% (YoY) dan merupakan level terendah dalam 7 bulan terakhir. 

Melambatnya inflasi AS secara tahunan juga pada akhirnya mendorong depresiasi dolar AS terhadap beberapa peersnya yang tercermin dari penurunan indeks dolar AS ke level 95,02 poin dibandingkan dengan hari sebelumnya di kisaran 95,50 poin. 

Katalis positif bagi harga SUN di pasar sekunder juga berasal dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang melanjutkan penurunan harga sebagai akibat dari lebih tingginya surplus cadangan minyak mentah AS dibandingkan ekspektasi pasar (act: 5,99 juta barel/2,62 juta barel). 

Tag : Obligasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top